Penuh Isak Tangis, Korban Pembunuhan di Tangerang Tiba di Tanggamus

Bagikan
  • 22
  •  
  •  
  •  
  •  

Tanggamus (HS) – Kedatangan jenazah Ana Robinah (35) binti Robinan, beserta jenazah kedua putrinya Syiva Sakila (9) dan Karissa Khumairah (3) disambut isak tangis keluarga dan tetangga serta rekan kerabat di RT 01 Kelurahan Baros, Kecamatan Kotaagung. Ketiga jenazah yang merupakan korban pembunuhan pada Jumat (13/10) lalu di Jl. Graha Siena Timur Blok M 10 no. 21 Perumahan Graha Siena Citra raya,  Kampung Cipari, Desa Ci Akar Kecamatan Panongan Kabupaten Tangerang Banten. Pelakunya Lukman (40) yang merupakan suami dan ayah kandung dari 2 anaknya sendiri.

Tiba di rumah duka pada hari Minggu (15 /10) sekira pukul 08.00 WIB dengan menggunakan mobil ambulance langsung dari Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang Banten. Prosesi pemakaman dilaksanakan di Tempat pemakaman milik keluarga yang hanya berjarak sekitar 50 M dari rumah orang tua Almarhumah, sekira pukul 10.00 Wib, dengan diiringi oleh sanak saudara dan ratusan tetangga korban yang ingin menyaksikan secara langsung dan menyampaikan rasa bela sungkawa kepada keluarga Almarhumah.

Saat ditemui di rumah duka, Buyung Hanafi Robinan yang merupakan kakak kandung Almarhumah mengatakan bahwa, kabar meninggalnya adik bungsunya dari 6 bersaudara tersebut, diterima olehnya pada hari Sabtu (14/10) sekira pukul 01.00 Wib melalui telpon dari bibinya yang berdomisili di Tangerang.

“Dari kabar itu, saya tidak langsung percaya, tapi setelah pagi saya lihat berita ditelevisi dan dihubungi kembali oleh sanak saudara saya yang ada disana, barulah kami yakin bahwa benar korban pembunuhan tersebut adalah adik bungsu dan keponakan-keponakan saya,” katanya seusai prosesi pemakaman berlangsung dengan mata berkaca-kaca, Minggu (15/10).

Buyung Hanafi Robinan menuturkan bahwa, dengan kejadian itu dirinya masih merasa sangat tidak menyangka, karena ketika keluarga tersebut berkunjung ke Lampung terlihat sangat harmonis dan tidak pernah menunjukan hal-hal yang mencurigakan baik dari Almarhumah sendiri ataupun dari suaminya (pelaku).

“Terakhir mereka pulang kesini (Tanggamus) yaitu pada akhir Desember 2016 yang lalu, dan keluarga itu memang sering pulang apalagi dihari-hari besar, dan sepengetahuan saya tidak ada tingkah atau sikap yang menunjukan bahwa dikeluarga itu ada masalah, terutama pada suaminya yang menurut pandangan kami orangnya pendiam dan sangat menyayangi keluarga dan akrab dengan keluarga kami semua,” tuturnya.

Terkait proses hukum, Buyung Hanafi tidak bicara banyak, namun dirinya berharap agar pelaku dapat dihukum seberat-beratnya karena pihaknya tidak mengetahui secara persis apa pokok persoalan keluarga tersebut hingga berujung pada pembunuhan terhadap adik dan keponakanya itu.

“Meskipun dihati kami sudah mengikhlaskan kepergian almarhumah, tapi yang masih terasa menyakitkan bagi saya pribadi adalah, kenapa permasalahan keluarga harus berujung maut, dan melibatkan kedua anaknya yang masih belia dan tidak tahu apa-apa. Semua kami serahkan pada proses hukum, karna ini menyangkut nyawa bahkan tiga nyawa, dan mereka yang disanalah yang tahu persis keadaan mereka sehari-hari, karena kalau disini kami tahunya baik-baik saja hingga terakhir kami dapat berita kejadian tragis ini,” ungkapnya. (sis)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com