KUPT Pasar Kedondong Tanggapi Sampah Menumpuk, Minta Maaf ke Warga

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kedondong (HS) – Gunungan sampah di Pasar Kedondong, Kabupaten Pesawaran, membuat pengunjung dan pedagang kesal. Camat Kedondong gerah dituding tak memperhatikan wilayah. Sesungguhnya bagaimana pengelolaan sampah di wilayah tersebut?

BACA JUGA: Gegara Sampah, Camat Kedondong Intimidasi

Haidir Fasha, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pasar Kedondong, menanggapi persoalan ini. Dia sempat menyinggung soal media yang salah alamat bertanya kepada Camat soal sampah. “Kalau ke camat memang tidak tepat, tidak semua persoalan diketahui camat. Secara teknis itu tugas kami,” kata Haidir, pekan lalu.

Sekadar catatan, media Hariansumatera.com pada awalnya tidak mengkonfirmasi soal sampah kepada camat, tetapi persoalan lain seputar keluhan kelambatan pelayanan dari para aparatur di bawahnya. Camat Kedondong Minak Yakin lah yang menyinggung soal sampah.

Haidir menjelaskan, polemik tumpukan sampah harus disikapi dengan bijak. Meski mengaku tidak hendak mengkritik camat, sebaiknya memang pucuk pimpinan wilayah bisa mengarahkan permasalahan yang ada kepada unit terkait.

Soal sampah menumpuk, Haidir mengaku akan segera menyelesaikan dengan pelbagai program yang dia susun. Salah satunya memindahkan tempat penampungan sampah (TPS) ke lokasi lain.

BACA JUGA: Waduh, Tumpukan Sampah di Pasar Kedondong

“Saya sedang perjuangkan soal pemindahan TPS. Saya juga selalu berdebat dengan Kadis (kepala dinas) soal ketersediaan alat angkut (dam truk sampah). Tapi realisasinya belum,” kata dia.

Haidir pun mengatakan perjuangan mendapatkan fasilitas standar pengelolaan sampah juga dia tempuh hingga menemui Ketua DPRD Pesawaran H.M. Nasir. “Tentu saya tidak menghadap sebagai KUPT. Saya membawa diri sebagai Ketua Himpunan Pemuda Kecamatan Kedondong. Saya ditegur Kadis karena upaya itu,” dia menceritakan.

Disinggung soal kemungkinan honor pekerja yang tak sesuai, Haidir menjelaskan saat ini KUPT memiliki tiga pekerja, tukang sapu dan tukang pengepul. Teknis kerjanya dari jam 16.00 WIB sampai selesai.

“Mereka mengumpulkan menjadi satu di tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Lokasinya di pasar itu. Honor sesuai ketentuan SK Kepala Dinas. Tunjangannya Rp750 ribu per bulan. Sayangnya mereka belum ada yang SK-nya honor daerah (Bupati, red),” katanya.

KUPT menjelaskan dia sedang berupaya pekerja di lingkungannya mendapatkan SK Honor Daerah (SK Bupati). Saat ini dia berusaha meningkatkan PAD dari Rp35 juta menjadi Rp40 juta lebih. Ini untuk merespon tunjangan pegawai.

Dia juga meminta maaf selaku pelayan publik yang masih memiliki kekurangan. “Sampaikan maaf kami ke masyarakat. Kami segera mencari solusi terbaik soal sampah,: ujar Haidir. (eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com