Gegara Berita Sampah Menumpuk, Camat Kedondong Pesawaran Intimidasi Wartawan

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kedondong (HS) – Era keterbukaan informasi ditambah aturan perundang-undangan yang kian tegas, ternyata belum membuat semua pejabat publik paham hak dan tanggung jawab. Tak terkecuali pemimpin ini. Gegara pemberitaan soal sampah menumpuk di Pasar Kedondong, Camat wilayah ini meradang dan mengintimidasi wartawan, Rabu (8/7) lalu.

BACA JUGA: Waduh Baunya, Sampah Menumpuk di Pasar Kedondong

“Bapak aslinya dari mana? Krui kan, Liwa… Krui kan…?” Begitu ucapan yang dilontarkan Camat Kedondong Minak Yakin kepada reporter Hariansumatera.com, ketika hendak meminta penjelasan beberapa isu yang berkembang di wilayah tersebut.

Begitupula ketika mengawali wawancara, Sang Camat sudah mengintimidasi dengan kalimat, “Bapak siapa? Yang muat saya di facebook itu ya? Kamu yang nulis camat tidur di fb ya? Itu urusan Perindag itu. Sampah itu punya Perindag, bukan urusan saya!”

Sembari berjalan meninggalkan reporter Hariansumatera.com, terdengar samar Camat menyatakan akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.

Awalnya reporter Hariansumatera.com hendak mengkonfirmasi beberapa hal selain persoalan sampah menumpuk di Pasar Kedondong. Semisal keluhan banyak pihak tentang kurangnya bahan alat tulis kantor (ATK) di kantor kecamatan yang membuat pelayanan ke warga menjadi lambat.

Keluhan juga disampaikan beberapa kepala desa di wilayah setempat, bahkan juga staf kecamatan.

Kondisi toilet Kecamatan Kedondong, Pesawaran

Salah satu Kepala Desa berinisial IH (nama sebenarnya ada di redaksi) mengungkapkan, ketika mengurus surat menyurat di kecamatan, selalu saja yang dikeluhkan ketiadaan kertas HVS atau hal terkait sarana dan prasarana kantor. “Atau komputernya lemot,” kata sang kades, Selasa (7/7) lalu.

Selain soal sarana dan prasarana, kondisi fisik gedung kecamatan pun seperti tidak terawat. Semisal atap kamar mandi yang jebol. Jika hujan turun, air masuk toilet dan menggenangi lantai. Pun ketika hendak membersihkan diri, air tak ada. Mesti menimba air dulu karena mesin pompa air rusak.

Seorang staf kecamatan yang juga minta namanya tidak disebutkan, menyatakan kondisi di bawah kepemimpinan Minak Yakin berbeda dengan pendahulunya. (eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com