Pengurus KTH Merangkap Aparat Desa Lakukan Pembalakan Liar di Register 21 Pesawaran

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pesawaran (HS) – Warga masyarakat Desa Harapan Jaya, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran, keluhkan Pembalakan Liar (Illegal Logging) yang terjadi di Kawasan Register 21 Pesawaran.

Seperti yang dikeluhkan warga desa Harapan Jaya kepada hariansumatera.com, Sabtu (09/11/2019).

Menurut penuturan warga Desa Harapan Jaya, Pembalakan di Register 21 telah berlangsung lama yang dilakukan oleh Uding, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH), merangkap sebagai aparat desa Harapan Jaya selaku Kaur Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Ditengarai perbuatan yang bersangkutan di backup oleh Anawi, selaku Kepala Desa.

Pasalnya, ketika masyarakat mengeluh kepada Kepala Desa Anaw i, masalah terjadinya pembalakan di Register 21. Kepala desa menjawab, “Cari saja sendiri pelaku penebangan, jangan laporan ke saya”.

Hal itu disampaikan salah seorang warga kepada hariansumatera.com.

Ketua KTH Uding menakut-nakuti masyarakat yang akan menebang pohon di kawasan. Padahal pohon itu untuk kebutuhan umum seperti pembangunan Mushola dan Masjid, tetapi masyarakat dilarang untuk menebang pohon. Giliran oknum pengurus KTH sendiri yang menebang dengan tenang. Padahal kayu yang dia tebang itu bukan untuk kebutuhan umum melainkan untuk dijual demi kebutuhan pribadi, kayu hasil tebangan itu ditumpuk di depan rumah kepala desa, namun seolah kepala desa tutup mata dengan adanya kejadian ini.

Ketika melakukan penelusuran ke Register 21 bersama warga masyarakat, banyak ditemukan bekas tebangan. Sebelumnya kawasan Register 21 dipenuhi dengan pohon kayu Sonokeling, saat ini telah habis kini tinggal kayu Sintuk, Medang dan Mahoni, selebihnya tinggal semak belukar.

Masyarakat Desa Harapan Jaya mohon aparat penegak hukum, baik itu Polhut, ataupun Polisi, agar menindak tegas para pelaku ilegal logging karna dampak dari illegal logging ini sangat merugikan masyarakat, seperti sering terjadinya longsor dan banjir karena hutan dikawasan tidak lagi mampu menahan debit air ketika musim penghujan, dan tidak mampu menyimpan air ketika musim kemarau sehingga masyarakat sangat kesulitan mendapatkan air untuk mengairi pesawahan dan untuk kebutuhan rumah tangga, ungkap warga. (Eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com