Erick Thohir, Keturunan Gunung Sugih Lampung di Kancah Dunia

Bagikan Berita

Peter Gontha, kini duta besar di Polandia, menyebut Teddy Thohir dengan singkat. “Luwes dan tidak punya musuh,” katanya. Gontha mengaku berteman akrab dengan Teddy. Ia dan Teddy beserta sekitar sembilan orang taipan sering berjalan bersama. Kelenturan, tekad, keberanian, dan keteguhan membuat Teddy telah berevolusi dari anak miskin menjadi profesional hingga menjadi seorang pengusaha. Ia merintis bisnis di bawah naungan TNT. Tak hanya itu, ia juga mampu mendidik anak-anaknya agar bisa terbang namun tetap berpijak di bumi. Boy dan Erick disekolahkan di Amerika Serikat. Tentang anak-anaknya, suatu saat Teddy bercerita bahwa ia sengaja menyekolahkan anak-anaknya hingga SMA tetap di Indonesia. “Agar mereka memiliki jaringan yang baik,” katanya. Bahkan sengaja menyekolahkan di sekolah negeri dengan risiko terkena bully. “Agar mereka bisa survive dan mampu mengatasi masalah karena nantinya mereka akan berada di tengah-tengah bangsanya sendiri,” katanya. Tak hanya itu, ia juga mengajarkan anak-anaknya agar berpijak pada agama Islam secara baik, bahkan memiliki prinsip-prinsip keluarga yang harus terpatri dengan kuat.

Teddy adalah fenomena berkah kemerdekaan Indonesia. Robert van Niel, dalam buku Munculnya Elit Modern Indonesia, menulis bahwa elite tradisional Indonesia berorientasi kosmologis. Sedangkan elite modern berorientasi kemakmuran, karena pengaruh pendidikan. Elite modern pertama lahir berkat politik etis pemerintah kolonial Belanda. Namun yang bisa sekolah hanya kaum ningrat saja. Kemerdekaan Indonesia mengubah segalanya. Semua rakyat Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Sehingga elite modern yang muncul setelah kemerdekaan lebih beragam latar belakangnya. Namun Teddy memang istimewa. Jika umumnya berorientasi menjadi pegawai negeri, ia justru bekerja di perusahaan swasta yang belum menjadi pilihan menarik saat itu. Pilihan itu membawanya menjadi seorang pengusaha dan kini diteruskan anak-anaknya sehingga mereka menjadi konglomerat Indonesia. Erick selalu ingat pesan ayahnya: “Jaga nama baik, karena itu yang utama.”

Kesempatan bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Bergiat dan beranilah menjemput masa depan dengan modal di badan kita sendiri. Teddy Thohir sudah membuktikannya. Dia dan keturunannya menjadi gelombang baru anak negeri yang masih harus memperbesar lapis entrepreneurshipnya, terutama dari generasi Muslim.

https://www.hariansumatera.com