Erick Thohir, Keturunan Gunung Sugih Lampung di Kancah Dunia

Bagikan Berita

Tak berhenti di situ, dilepas pamannya, usai tamat SMP ia merantau sendirian ke Jawa. Ia ke Solo dengan naik kereta. Ia menempuh pendidikan SMEA I di kota ini atas saran gurunya di SMP yang mempunyai rekan yang menjadi guru di SMEA itu. Teddy lulus SMEA tahun 1956. Ia bisa berangkat ke Solo berkat bantuan pedagang kaya di Metro, tempat ia bekerja sambil sekolah. Di Solo ia juga sekolah sambil bekerja. Simpati orang-orang lahir karena kecerdasannya dan kegigihannya. Setelah itu ia bekerja di Jakarta. Hidup sebatang kara dan kemudian jatuh cinta pada gadis Tionghoa, rekan kerjanya di sebuah rumah sakit di Jakarta. Edna, nama gadis itu. Ia seorang perawat. Jalinan cinta itu tak direstui kedua orangtua Edna, yang berasal dari Kadipaten, Majalengka. Teddy pun pulang kampung untuk menata hati. Diam-diam Edna menyusul dan mereka menikah secara Islam. Setelah itu mereka kembali ke Jakarta dan meniti hidup dari bawah, hingga memiliki satu anak, Rika. Saat itulah kedua orangtua Edna datang. Tentu suasananya haru biru, tangis yang bahagia.

Teddy memiliki rahang yang menonjol. Suaranya agak berat. Intonasinya tegas. Ia murah senyum, namun wajahnya yang agak persegi membuat dirinya memiliki kharisma. Kariernya di perusahaan asing yang bergerak di bidang industri kimia, Union Carbide, sangat baik hingga ia menjadi kepala administrasi. Namun jabatan yang baik itu ia tinggalkan ketika mendapat tantangan yang menarik saat istri TP Rachmat, yang punya hubungan dekat dengan Edna, mengajak Teddy bergabung dengan Astra. Orangtua Edna juga akrab dengan William Soeryadjaya, pemilik Astra. Astra kemudian menjadi perusahaan raksasa dan dikenal sebagai raksasa otomotif serta perkebunan. Teddy di Astra sejak perusahaan ini benar-benar mulai dari awal sekali, hingga Teddy menjadi salah satu direkturnya. Namanya cukup dikenang. Suharto, kini sudah almarhum dan pernah bekerja di Astra namun kemudian bergabung dengan Tommy Soeharto untuk mendirikan perusahaan mobil Timor, bercerita tentang keluwesan Teddy. “Suatu saat saya diajak beliau ke suatu kampung. Sesepuh kampung itu mencium tangannya. Eh, ternyata beliau menjadi khotib di masjid di kampung itu,” katanya. Suharto bercerita bahwa Teddy sangat persuasif. Saat itu Astra akan membeli lahan di kampung itu.

SELANJUTNYA

https://www.hariansumatera.com