Tuan Tualo Jimo: Tambang Batu Sekipi Langgar Amdal

Bagikan
  • 68
  •  
  •  
  •  
  •  

Kotabumi (HS) — Menjaga serta melestarikan alam merupakan tugas dan kewajiban seluruh masyarakat. Eksploitasi sumber daya alam dan mineral yang terkandung di dalamnya pada hakekatnya diperuntukkan bagi kemaslahatan dan hajat hidup orang banyak. Hal ini disampaikan Bermansyah gelar Tuan Tualo Jimo yang merupakan tokoh masyarakat adat Kebuwayan Minak Tualo Kutobumei Tigo Gandung, Minggu, (26/11), di kediamannya.

Dikatakan Bermansyah, mencermati maraknya pemberitaan di beberapa portal media online terkait adanya dugaan pelanggaran AMDAL yang dilakukan perusahaan tambang batu milik pengusaha DI secara teknis pekerjaan penambangan di dekat makam bersejarah Minak Trio Diso tersebut, sangat berpotensi merusak kelestarian alam serta mengancam keberadaan cagar budaya Situs Canguk Ghaccak.

“Saya kira, aktivitas penambangan yang terekam kamera wartawan sangat jelas melanggar AMDAL. Pada prinsipnya, selagi perusahaan dimaksud mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi serta legalitas administrasi pendukung lainnya dari Dinas Pertambangan dan Energi Prov. Lampung dan instansi terkait, saya pikir, tidak jadi soal bagi perusahaan itu untuk melakukan penambangan di wilayah mana saja. Namun kiranya, eksploitasi terhadap kekayaan SDA dilaksanakan dengan bijak. Artinya, pengusaha juga wajib memperhitungkan efek sosial budaya dan kelestarian lingkungan,” papar Bermansyah.

Ditegaskannya, Pemkab Lampura sudah seharusnya cepat tanggap dalam menangani permasalahan ini.

“Meskipun kewenangan Pemkab Lampura terbatas dalam hal mengambil langkah dan kebijakan strategis guna menyikapi persoalan ini, namun setidaknya fungsi kontrol dan evaluasi dapat dijalankan dengan baik dan reaktif,” tegasnya.

Dijelaskannya, Pemkab Lampura harus segera mencari jalan keluar yang bersifat win-win solution. “Di seputar wilayah tersebut terdapat satu areal cagar budaya sebagai aset Pemkab Lampura sekaligus sejarah dari keberadaan masyarakat adat Abung Siwo Migo,” urai Bermansyah seraya menyarankan agar Pemkab setempat segera mengambil langkah konkrit agar dampak dari permasalahan ini tidak meluas dan mengakibatkan konflik horisontal.

“Atas nama masyarakat Adat Kebuwayan Minak Tualo, saya sarankan agar Pemkab Lampura mengkaji, membina, mengevaluasi, serta meninjau ulang perijinan maupun hal teknis lainnya terkait dengan perusahaan penambangan batu milik pengusaha DI,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakan Bermansyah glr. Tuan Tualo Jimo mengharapkan kepada seluruh Kebuwayan Abung Siwo Migo kiranya turut aktif melestarikan makam leluhur Minak Trio Diso. “Silsilah masyarakat adat Abung Siwo Mergo bermula dari Minak Trio Diso. Sudah sepatutnya kita menjaga, merawat, serta senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah SWT sebagai wujud rasa syukur telah terlahir sebagai anak kebuwayan Minak Trio Diso,” urainya seraya menambahkan Pemkab Lampura juga Pengusaha DI agar membuat komitmen yang konkrit atas apa yang sudah terjadi.

“Jika tidak, kami yang akan buatkan komitmen itu dengan melibatkan seluruh masyarakat adat Abung Siwo Migo,” pungkas Bermansyah. (efri).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com