Kairo – Mantan Presiden Mesir, Hosni Mubarak, meninggal dunia dalam usia 91 tahun. Mubarak yang pernah memimpin Mesir selama nyaris 30 tahun ini dikenal sebagai wajah kawasan Timur Tengah sebelum dilengserkan militer usai unjuk rasa besar-besaran selama 18 hari tahun 2011 lalu.
Hosni Mubarak yang pernah dijuluki sebagai pria kuat atau ‘strongman’ ini memimpin Mesir selama 30 tahun dengan tangan besi. Di bawah kepemimpinannya, warga Mesir hidup di bawah undang-undang darurat yang memberikan wewenang besar pada badan keamanan negara itu.
Seperti dilansir CNN dan Associated Press, Selasa (25/2/2020), selama nyaris tiga dekade memimpin Mesir, Mubarak selamat dari percobaan pembunuhan dan selamat dari penyakit. Dia memberlakukan kebijakan keras dalam memberantas gerakan radikal Islamis di Mesir dan menjaga pakta perdamaian dengan Israel.
Mubarak yang lahir pada Mei 1928 ini menjabat sebagai Presiden ke-4 Mesir pada Oktober 1981, setelah presiden sebelumnya, Anwar Sadat, tewas dibunuh oleh ekstremis Islamis saat menyaksikan parade militer. Mubarak saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Mesir.
Duduk di sebelah Sadat saat kelompok ekstremis memberondong Sadat dengan tembakan, Mubarak berhasil selamat dengan luka ringan di tangannya.
Begitu menjabat Presiden Mesir, Mubarak menyatakan masa darurat yang melarang aksi unjuk rasa, membatasi kebebasan berbicara dan mengizinkan polisi memenjarakan orang-orang tanpa batasan waktu. Hal ini diberlakukan selama masa kepemimpinannya selama 30 tahun dan membuatnya dituduh melanggar HAM berat oleh organisasi HAM internasional.
Tahun 1986, militer Mesir melakukan operasi besar-besaran terhadap pemberontakan dalam tubuh paramiliter. Sekitar 30 ribu orang dijebloskan ke penjara saat kelompok militan setempat menyerang wisatawan tahun 1990-an.
Mubarak lolos dari beberapa kali percobaan pembunuhan, termasuk salah satunya yang terjadi tahun 1995 saat kelompok militan setempat menembaki rombongan kendaraannya saat menghadiri konferensi pan-Afrika di Ethiopia.



