Ada sebuah filosofi yang ditawarkan dari suara-suara para penari yang mengiringi gerak tarian KA GA NGA sepanjang pertunjukan hingga akhir, yakni lahirnya Aksara Lampung sebagai tanda dimulainya peradaban tradisional masyarakat Lampung yang kemudian bertransformasi menuju peradaban modern dengan dimunculkannya pelafalan abjad A Be Ce.
Hal tersebut menandakan mulai bergesernya peradaban purba menuju budaya modern yang tidak bisa dihindari.
Sebuah pertanyaan muncul seiring dengan berubahnya gerak, karakter, dan pengucapan aksara Ka Ga Nga menjadi abjad yang dikenal saat ini, apakah proses transformasi peradaban manusia pada akhirnya menggerus historis kebudayaan tanpa jejak?
Ayu Permata Dance Company membuka kembali wahana pikiran pengunjung yang selama ini dijejali berbagai hasil kemajuan teknologi. Peradaban manusia mendorong perubahan pola pikir dan gaya hidup. Akulturasi kebudayaan justru memberikan ancaman pada identitas dan jatidiri serta menghancurkan nilai-nilai tradisi yang agung.
Tari KA GA NGA mengajak pengunjung untuk kembali menjaga produk kebudayaan Indonesia yang mulai tenggelam dan terlupakan. Inilah nilai moral yang ditawarkan Ayu Permata Dance Company
Bahasa adalah alat pemersatu bangsa.
Hal ini tidak dapat dipungkiri. Di zaman prasejarah, manusia menggunakan simbol-simbol tertentu dalam berkomunikasi. Seiring dengan perkembangan peradaban kehidupan manusia, simbol tertentu yang digunakan manusia untuk berkomunikasi bergeser dengan aksara atau abjad atau huruf atau alphabet tertentu yang disepakati dalam komunitas-komunitas masyarakat.
Untuk itu, dengan terus menjaga khasanah budaya melalui eksistensi aksara Lampung sebagai salah satu produk asli kebudayaan Indonesia akan memperkuat identitas dan jatidiri bangsa yang bermuara pada ruang eksistensi manusia dalam perjalanan hidupnya.@



