Kadiskes Lampura Soal Meninggalnya Ibu dan Bayi di RS MYK: Keterlambatan Tindakan Medis

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kotabumi (HS) – Terkait meninggalnya ibu dan bayi saat hendak melakukan persalinan di Rumah Sakit Hi. M. Yusuf Kalibalangan Kabupaten Lampung Utara (Lampura), Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Lampung Utara (Lampura), Maya Metissa menyatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh keterlambatan tindakan oleh pihak rumah sakit tersebut.

Kendati demikian dirinya belum bisa menyimpulkan terlalu jauh penyebab kematian ibu dan bayi tersebut.

” Saya sudah menerima klarifikasi dari direktur Rumah Sakit Hi. M. Yusuf dr. Sri Haryati melalui pesan aplikasi WhatsApp . Tapi klarifikasi tersebut belum sempat saya baca, ” kata Kepala Dinas Kesehatan Lampura, Maya Metisa saat di konfirmasi awak media. Selasa (23/6/2020).

Dikatakan Maya, meninggalnya ibu dan bayi tersebut dirinya belum bisa memastikan apakah hal tersebut disebabkan oleh kelalaian oleh pihak rumah sakit swasta tersebut.

” Tapi, Saya menarik kesimpulan meninggalnya ibu dan bayi malang tersebut hanya keterlambatan penanganan saja,” ujar Maya.

Dikatakan lebih lanjut, bahwa pihaknya dalam waktu dekat akan segera menyambangi rumah sakit tersebut guna melakukan pengecekan kebenaran akan adanya berita yang sangat memilukan bagi keluarga atau suami korban.

” Hingga saat ini kami belum bertemu dengan pihak keluarga pasien, Dan insa Allah minggu-minggu ini, Tim dari Dinkes Lampura, akan turun ke lokasi, guna mengkroscek kebenaran informasi tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lampung Utara, AKP Gigih Andri Putranto, saat dikonfirmasi awak media membenarkan atas laporan yang dilakukan oleh suami korban.

Bahkan Gigih mengatakan, Laporan tersebut sedang dalam proses penyelidikan.

“Iya benar, atas peristiwa tersebut, korban telah membuat laporan ke Polres Lampura dengan bukti laporan yang tertuang dalam LP/593/B/VI/2020/Polda Lampung/SPKT RES LU, tentang setiap tenaga kerja kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian, pada Sabtu (20/6) sekira pukul 18.00 WIB. Dan sejauh ini laporan tersebut sedang dalam tahap Lidik,” kata Gigih.

Diberitakan sebelumnya, Desi Irawati (27) seorang ibu muda dan bayinya meninggal duni saat akan melakukan persalinan di Rumah Sakit H. M. Yusuf Kalibalangan Kabupaten Lampung Utara. Rabu (17/6/2020).

Tentunya lagi, hal tersebut berawal dari buruknya pelayanan Rumah Sakit H. M. Yusuf Kalibalangan.

Amroni saat menggelar konferensi pers, menuturkan bahwa sebelum hendak melahirkan dirinya sempat berkonsultasi dengan dr. Syah Indra Lubis selaku dokter spesialis kandungan. Pada saat konsultasi, terang dia dokter Indra menyarankan dua pilihan dibawa kerumah sakit H. M. Yusuf atau rumah sakit Maria Regina.

” Saya memutuskan untuk di bawa ke rumah sakit H. M. Yusuf pada hari Selasa pagi (16/6/2020)pukul 10.00 Wib,” terang Amroni, Minggu (21/6/2020).

Dijelaskannya, setelah menghantarkan istri tercintanya di rumah sakit tersebut, dirinya merasa tidak ada pelayanan prima, dimana, sejak dirumah sakit istrinya hanya mendapatkan infus oleh pihak rumah sakit tanpa ada seorang dokter yang menangani sampai istri dan anaknya meninggal dunia.

” Padahal sebelumnya pada tanggal 1 Juni 2020 Saya membawa Almarhumah istri mengecek kondisi Kandungan di Klinik dr. Indra Husada Lubis, hasilnya baik dan bisa melahirkan secara normal,” jelasnya.

Lebih lanjut Amroni menjelaskan, pada saat konsultasi di klinik dr. Indra memperkirakan jadwal persalinan sekitar tanggal 20 Juni 2020.

Dirumah sakit pada pukul 22.00 Wib hingga pukul 01.00 wib Alhmarhumah mengalami kontraksi dan merintih kesakitan dan akhirnya berkoodinasi dengan pihak rumah sakit untuk di lakukan tindakan, namun sayangnya tidak diindahkan.

” Pada pukul 02.30 Wib istri Saya pecah ketuban, dan tenaga medis hanya membersihkan air ketuban yang tumpah dan memindahkan keruangan kebidanan, ” katanya.

Kemudian, kondisi Almarhum (desi) semakin melemah dengan merintih kesekitan, tenaga medis langsung membawa keruang operasi.

” Almarhum Desi merintih kesakitan berkata, pah mana dokternya kok tidak sampek sampek, ” ucap dia menirukan bahasa Almarhum Desi istrinya.

Sekira Pukul 05.30 wib kondisi kritis dan dokter pun tiba keruangan pukul 06.00 WIB melakukan tindakan memeriksa kondisi tubuh, memasang selang oksigen dan bayi dalam kandung. ” Akhirnya, Desi dan bayi tidak bisa diselamatkan, ” Jelasnya.

Atas kejadian tersebut, Amroni merasa kecewa dengan buruknya pelayanan RS. Hi Muhammad Yusuf Kalibalangan yang mengakibatkan Istri dan bayinya meninggal. Sehingga Amroni melaporkan kejadian Kepolres Lampung Utara dengan pengaduan nomor: LP/593/B/VI/2020/ Polda Lampung/ SPKT RES LU, Tanggal 20 juni 2020

Sementara Direktur Rumah Sakit Hi.Muhammad Yusuf dr. Sri Haryati menjelaskan bahwa pasien desi dan bayi didalam kandungan meninggal dunia dengan diagnasa Embilo Air Ketuban.

“Berbagai upaya sudah tindakan medis dilakukan untuk menyelamatkan Alhmarhum Desi dan bayinya. Namun keduanya tidak bisa diselamatkan, ” Ungkapnya.

Dijelaskannya, pasien desi masuk kurang lebih pukul 10.00 wib, tenaga medis langsung menangani pasien dengan mengecek kondisi sang ibu dan bayi. Selanjutnya, setiap 4 jam sekali tenaga medis terus mengontrol kondisi pasien hingga malam masih bukaan 1. Lalu, Bidan yang berjaga menganjurkan untuk dioperasi sesar. ” Keluarga pasien berundik dulu, baru pada tengah malamnya keluarga bersedia untuk dioperasi, ” Terangnya.

Pihak rumah sakit melakukan pemeriksaan darah dan lainnya untuk persiapan operasi. ” Pasien dipindahkan keruang operasi kondisi terjadi perubahan tekanan darah turun mendadak, napas tersenggal senggal, gelisah, dan seluruh tubuh dingin, saya selaku dokter jaga dipanggil, diliat ada tanda tanda emboli air ketuban. semua obat masuk untuk menstabilkan tensi nadi oksigen yang ada pada tubuh pasien, setelah itu memanggil keluarga pasien dan menjelaskan kondisinya, ” Paparnya.

Ditambahkannya, Pihak rumah sakit sudah menyarankan untuk dirujuk, tapi pihak keluarga ingin pasien tetap dirawat disini. ” Semua upaya telah dilakukan untuk membantu pasien tapi allah berkehendak lain, ” Pungkasnya. (Diq/Ef).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com