Tanggamus (HS) Dinas Kebudayaan Tanggamus mulai membangkitkan lagi tradisi yang jadi budaya masyarakat agar tidak punah seiring perkembangan jaman.
Menurut Kadis Kebudayaan Gandung Hartadi, saat ini pengangkatan lagi tradisi tersebut yakni untuk kegiatan melawai dan daduai. Keduanya masuk dalam rangkaian kebiasaan yang digelar saat anggota masyarakat mengadakan hajatan atau nayuh.
“Keduanya mengandung makna kebersamaan dan gotong royong, persaudaraan, saling menghormati. Dan dua kebiasaan itu kini sudah hampir hilang,” ujar Gandung, Rabu (10/10).
Ia mengaku untuk mengangkat lagi tradisi itu maka diadakanlah kegiatan melawai di Muara Indah pada Selasa (9/10) lalu dan daduai pada Rabu (10/10) di Taman Kota Agung. Keduanya budaya masyarakat Lampung pesisir.
Untuk melawai yakni kegiatan mencari ikan secara bersama-sama. Itu dulu dilakukan masyarakat saat salah satu di antara mereka akan adakan hajatan. Maka ikan yang didapat untuk makan bersama di antara orang yang membantu hajatan.
“Melawai tidak cuma dilakukan di laut, tapi juga di sungai-sungai yang tujuannya untuk mencari ikan untuk makan bersama. Tradisi ini dari nenek moyang turun temurun tapi sejak sepuluh tahun terakhir sudah hilang,” kata Gandung.
Kemudian setelah melawai diadakanlah kegiatan daduai. Ini adalah kegiatan saat acara resepsi, itu diadakan saat akan acara resepsi dan untuk kegiatan hiburan saat resepsi. “Daduai kini sudah jarang, sekarang ini kalau resepsi masyarakat pilih hiburan organ tunggal,” kata Gandung.
Ia menjelaskan dalam rangkaian daduai, ada beberapa kegiatan yang digelar yakni segatah, wawancah, adiadi atau pembacaan sastra lisan berisi nasihat. Lalu picak kakhot atau pencak silat yang melambangkan sebagai ketrampilan bela diri untuk perlindungan masyarakat.
Kemudian betaboh yakni pembacaan nasihat, puji-pujian kepada Tuhan, biasanya diisi dengan pembacaan selawat atau berjanji. Setelah itu barulah gelaran tari-tarian, itu yang digunakan untuk kegiatan hiburan dalam resepsi.
“Dulu saat ada resepsi seluruh marga akan menampilkan tarinya masing-masing, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Kebiasaan seni budaya inilah yang kami coba keluarkan lagi,” ujar Gandung.
Ia mengaku untuk kegiatan melawai dan daduan yang diadakan, Disbud Tanggamus memanggil para tokoh adat, marga dan keratuan dengan tujuan bersama-sama melahirkan lagi tradisi tersebut.
Harapannya tradisi itu dapat dikenalkan lagi oleh para tokoh adat, marga dan budaya. Jangan sampai tradisi dari nenek moyang hilang atau tidak dikenal oleh generasi sekarang ini.
“Makanya kami undang sekolah-sekolah untuk melihat supaya siswa yang merupakan generasi sekarang bisa tahu, dan cara begitu tradisi bisa bertahan,” terang Gandung. (Sis)



