Diduga Terjadi Penyimpangan Ratusan Juta Dana Bumdes Desa Pesawaran

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kedondong (HS) – Warga menduga terjadi penyimpangan ratusan juta rupiah pengelolaan Dana Desa untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Banyu Urip desa pesawaran Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran, oleh direktur Bumdes Aziz Sudaryanto. Diungkapkan beberapa tokoh masyarakat desa Pesawaran kepada Media hariansumatera.com, Jum’at 19 Oktober 2019.

Pertama bidang usaha penjualan Gas Elpiji 3kg dan obat-obatan pertanian yang menggunakan Dana Desa tahun 2017 sebesar Rp 100 juta rupiah, yang dikelola oleh Santo Kadus 05 bersama saudaranya Herianto.

Kedua, kerjasama usaha pabrik tahu dengan Sentra Tahu Mugi Makmur, yang dikelola oleh Edi Firmansyah sebesar Rp 118 Juta lebih berasal dari Dana Desa tahun 2018.

Menurut para tokoh masyarakat desa Pesawaran diantaranya, Nasiman, Syaiful Anwar, Saridi dan Sumaryoto, semuanya para tetua dan tokoh masyarakat desa Pesawaran mengatakan, Dana Desa yang digunakan BUMDES tahun anggaran 2017 sebesar Rp. 100 juta dan anggaran tahun 2018 sebesar Rp.118 juta dengan keseluruhan Rp 218 juta, masyarakat tidak merasakan manfaatnya, ungkap para tokoh masyarakat.

Misalnya Gas Elpiji masyarakat selama ini membeli dengan harga kisaran Rp 23.000 – Rp 24.000,- bahkan ketika langka Gas Elpiji bisa lebih mahal lagi. Padahal menurut aturan pemerintah, Harga Eceran seharusnya Rp 16.500,-. Untuk obat-obatan pertanian juga tidak jelas, ungkapnya.

Direktur BUMDES Aziz Sudaryanto ketika dikonfirmasi hariansumatera.com, Sabtu 20 Oktober 2019 mengatakan:

Pertama, anggaran tahun 2017 Dana Badan Usaha Milik Desa (BUMDES.) didapat dari Dana GADIS, dengan nilaiRp.100juta. Hasil Kesepakatan Kami Anggota dan Kepengurusan (BUMDES) sebesar Rp.50 juta, kami belanjakan sarana dan prasarana Tabung Gas Elpiji 3kg, Seharga Rp.175.000 x 200 tabung =Rp.35 juta dan Rp 50 juta dibidang Sarana dan prasaran Obat-Obatan pertanian.

Kedua Dana Desa tahun 2018 Senilai Rp.118 juta, Seluruhnya diserahkan kepada Edi Firmansyah selaku pengelola Sentra Produksi Tahu MUGI MAKMUR, Ujar Aziz Sudaryanto.

Menurut Edi Firmansyah pengelola Sentra Produksi Tahu MUGI MAKMUR ketika di konfirmasi tanggal 21 Oktober 2019 mengenai kebenaran dana yang diprolehnya benarkah Sebesar Rp.118 jutaan? Jawaba Edi Firmansyah, ” Demi Alloh, Demi Rosululloh, pak, Saya tidak pernah menerima bantuan erupa uang Dari Bpk H. SUROTO selaku kepala desa, maupun Bpk AZIZ SUDARYANTO selaku Direktur BUMDES, terlebih lagi jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah pak, yang saya terima berupa sarana dan prasarana, berupa material, diantaranyas: 1. Kayu Kasau 2 kubik. 2. Papan Palet 1 kubik. 3. Asbes 3 Kodi. 4. Drum bekas Buat Open pengolahan Tahu. 5. Wajan penggorengan1 buah. 6. Mesin Genset seharga Rp.6 juta sebulan pemakaian sudah rusak (pedhot). 7. Kenceng. 8. Pasir Dua Mobil Buat ngampar lantai. 9. Semen 15 Sak. 10. Upah tukang Rp.2,7 juta. Hanya itu saja pak yang saya terima, kalau Modal buat pembelanjaan bahan pengolahan tahu Saya dapat pinjam dari tengkulak (Rentenir)”, ungkap Edi.

Kalau memang benar Aziz Sudaryanto memberikan anggaran dana kepada Saya sebesar itu, sudah positif usaha saya Mlmewah semua pak, dan dari segi Open nya gak pakai Drum Bekas, Mesin Genset nya pun, saya beli yang besar, tambah Edi sambil tertawa.

Hasil peninjauan ke tempat Bumdes Banyu Urip, menurut penuturan Santo dan Herianto, keduanya pengelola Banyu Urip dibidang Gas Elpiji 3 kg dan Obat-Obatan pertanian. “Setahu saya harga beli pertabung berikut isinya Rp150 ribu, dan yang kami Tlterima berupa barangnya. Saja. Sementara Obat-Obatan pertanian, sudah dibelanjakan Oleh bapak Aziz Sudaryanto selalu Direktur BUMDES, dan kami tidak pernah tahu berapa besar kecilnya anggaran tersebut, terlebih lagi melihat dengan uangnya seperti apa”, ungkapnya.

Ditambahkan mereka, Sumpah kami tidak tahu, setahu kami pengelola dan pembelanjaan, sekaligus yang memegang uang itu semua Aziz Sudaryanto, Ujarnya keduanya.

Ketika ditanya soal Surat Ketetapan Pengelola Banyu Urip dan tentang Surat Ketetapan kepengurusan Bumdes keduanya menjawab tidak punya.

Hal yang sama dikatakan oleh bendahara Bumdes Puji Rahayu, saya hanya jadi bendahara dadakan ketika akan melakukan pencairan dana, saya tidak memiliki Surat Ketetapan apapun sebagai bendahara.

Pada tahun 2017 saya dengan Aziz Sudaryanto mencairkan dana sebesar Rp 100 juta dan saya dikasih fee Rp 500 ribu, selanjutnya tahun 2018 mencairkan dana sebesar Rp 118juta dan saya dikasih fee Rp 300 ribu, kata Puji Rahayu.

Kami warga masyarakat Desa Pesawaran, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran, “Meminta dan Memohon kepada Dinas-Dinas instansi terkait, Kepolisian, Kejaksaan dan inspektorat, baik di kabupaten Pesawaran maupun Provinsi Lampung dan Pemerintah Pusat, Sudi kiranya turun kedesa kami, untuk neninjau kebenaran, dari penyimpangan-penyimpangan pengelolaan Dana Desa di Desa Pesawaran, Kecamatan Kedondong. Kabuparen Pesawaran Provinsi Lampung. meyakini bahwa hukum dinegara ini memang benar-benar ada dan wajib untuk tegakan” , ungkap para tokoh masyarakat. (Eka)

hs-krs-22.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com