Religi  

Sosok Sesungguhnya Malaikat Jibril

Bagikan Berita

Dalam perjalanan isra’ mi’raj ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau lihat bapak para nabi itu tengah bersandar di Baitul Ma’mur. Terjadilah dialog antara kedua rasul. Sebagaimana yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya. Namun, ada poin penting lainnya dalam kejadian tersebut yang belum kita bahas. Yaitu tentang Baitul Ma’mur. Apa itu Baitul Ma’mur?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ رُفِعَ لِي البَيْتُ المَعْمُورُ”. وفي رواية مسلم: “ثُمَّ رُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟ قَالَ: هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا مِنْهُ لَمْ يَعُودُوا فِيهِ آخِرُ مَا عَلَيْهِمْ

“Kemudian aku dinaikkan menuju Baitul Ma’mur.” Dalam riwayat lain, “Kemudian ditampakkan padaku Baitul Ma’mur. Aku bertanya, ‘Apa ini Jibril?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Baitul Ma’mur yang setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat. Jika mereka telah memasukinya, mereka tak akan kembali. Itulah kali pertama dan untuk terakhir mereka masuk ke dalamnya’.”

Dalam riwayat an-Nasai terdapat keterangan tambahan:

إِذَا خَرَجُوا مِنْهُ لاَ يَعُودُونَ إِلَيْهِ أَبَدًا

“Kalau mereka telah keluar dari Baitul Ma’mur, mereka tak akan kembali lagi selama-lamanya.” (HR. an-Nasai dalam Kitab at-Tafsir Surat ath-Thur (11530) dari Anas radhiallahu ‘anhu).

Malaikat hanya sakali seumur hidup mereka memasuki Baitul Ma’mur. Teringat akan kewajiban yang Allah berikan kepada kita, wajib ke Baitullah al-Haram seumur hidup satu kali. Hanya saja bedanya, kita bisa dan diizinkan untuk melakukannya lebih dari satu kali.

Merenungkan hadits ini menimbulkan rasa khusyuk dan tunduk kepada Allah Ta’ala. Sejak Baitul Ma’mur diciptakan, setiap hari 70.000 malaikat memasukinya. Dan tidak mengulanginya. Alangkah banyaknya jumlah malaikat-malaikat yang mereka itu sangat taat dan tunduk kepada Allah. Dan kita juga semakin memahami sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لاَ تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلاَّ وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلهِ .

“Sesungguhnya aku melihat apa yang tak kalian lihat. Aku mendengar apa yang tak kalian dengar. Langit itu merintih. Dan sudah sewajarnya ia merintih. Tidak ada tempat tersisa empat jari pun kecuali ada malaikat yang meletakkan dahinya sujud kepada Allah.” (HR. at-Turmudzi dalam Kitab az-Zuhd 2312 dan selainnya).

Saking banyaknya jumlah malaikat yang memadati langit, langit pun layak untuk merintih.

Jadi, beliau melihat Baitul Ma’mur sebanyak dua kali. Saat perjumpaan dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Saat itu, beliau hanya bertanya tentang Nabi Ibrahim. Karena Nabi Ibrahimlah yang jadi inti pertemuan kali itu. Kemudian saat naik ke Sidraul Muntaha, disitulah beliau melihat Baitul Ma’mur dengan lebih jelas.

Lalu seperti apa bentuk Baitul Ma’mur itu?

https://www.hariansumatera.com