Resesi Venezuela, Orang Tua Buang Anak

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Caracas – Krisis ekonomi parah di Venezuela membuat semakin banyak warganya memberi anak mereka kepada orang lain atau bahkan membuangnya, termasuk diisi dalam kantong sampah karena tidak lagi mampu menghidupinya.

Penduduk Venezuela  kini rata-rata memiliki pendapatan hanya sebesar US$ 50 atau berkisar Rp 670 ribu per bulan setelah resesi ekonomi yang buruk akibat jatuhnya harga minyak. Penghasilan itu menyebabkan mereka tidak mampu membiayai hidup sehari-hari.

Sebuah badan amal yang menamkan diri Tiga Otoritas Lokal (PBT) dan empat badan amal nasional lainnya, membenarkan semakin banyak orangtua menyerahkan anak mereka ke lembaga dan badan amal, teman atau kerabat.

Salah satunya adalah Zulay Pulgar, 43 tahun, yang mengalami kesulitan memberi makan tujuh anaknya. “Lebih baik diberi kepada orang daripada dia menjadi pelacur, pengedar narkoba atau mati kelaparan,” kata Pulgar.

Menurut Daily Mail, wanita itu terpaksa meminta tetangga mengambil putrinya yang berusia enam tahun pada Oktober lalu.

Selama ini  anak-anak itu hidup dari pensiun ayahnya sebesar US$ 6 per bulan. Sedangkan harga barang kebutuhan pokok di Venezuela kini lebih mahal dibandingkan Amerika Serikat.

Pulgar menuturkan, saat ini harga seekor ayam mencapai setengah dari gaji setiap bulan yang diterimanya. Ia hanya sarapan roti, kopi dan  nasi untuk makan siang dan malam.

Selain orang tua menyerahkan anak mereka ke keluarga atau orang lain, ada pula orangtua yang membuang anaknya. Seperti peristiwa bulan lalu,  bayi laki-laki ditemukan dalam tas di daerah penduduk kaya di Caracas. Kemudian, seorang bocah usia setahun dengan tubuh teramat kurus ditemukan dalam kotak di Ciudad Guayana.

Menurut pekerja sosial, semakin banyak anak-anak dan remaja mengemis di jalanan, bahkan ada yang melacurkan diri. Aborsi bayi tidak diperbolehkan di Venezuela namun alat perlindungan seks, termasuk kondom sulit diperoleh.

Venezuela, negara dengan penduduk 30 juta orang yang memiliki cadangan minyak terbesar dunia itu juga mengalami krisis kekurangan makanan dan setiap hari. Setiap hari antrian panjang orang dapat dilihat di supermarket.

Jutaan penduduk Venezuela kini kelaparan setiap hari dengan tingkat inflasi kini meningkat tiga kali lipat sedangkan nilai mata uang negara itu anjlok hingga 80 persen.

Pemerintah menyalahkan Amerika Serikat dan oposisi sebagai penyebab hingga Presiden Nicolas Maduro menyatakan negara dalam keadaan darurat. Namun, ekonom berpendapat itu bersumber dari kebijakan sosial yang diperkenalkan mantan Presiden Hugo Chavez. tempo.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com