Polemik Limbah RS Insani Medika, dari Izin Mati dan Manajemen Anggap Warga Tak Berterimakasih

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kotabumi (HS) – Sejumlah permasalahan terkait pengelolaan pengelolaan instalasi pengolahan limbah (Ipal) Rumah Sakit Medika Insani yang terletak di jalinsum Desa Tanjung Baru, Kecamatan Bukit Kemuning, Kabupaten Lampung Utara, mulai tampak terlihat saat tim Dinas Kesehatan setempat melaksanakan monitoring dan evaluasi terkait keberadaan rumah yang disinyalir membuang limbah sembarangan. Rabu (27/5/2020), kemarin.

Baca Juga: Ancaman Hukuman Bagi Pembuang Limbah Sembarangan

Seperti masalah izin lingkungan dikeluarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup, jelas dalam surat penerbitan telah hampir satu bulan ini mati atau habis masa berlakunya. Lalu, dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) belum direvisi, mengenai permasalahan jenis limbah B3 belum diperinci sampai belum tersedianya tempat menampungnya limbah akhir rumah sakit.

Serta klaim-klaim pihak rumah sakit, atas upaya mendirikan rumah sakit bagi keberlangsungan hidup dengan warga tetangganya. Seperti misalnya telah memberikan bantuan pada masyarakat sekitar namun dibantah, upaya penanggulangan covid. Serta membuat penampungan kolam dengan ikan didalamnya yang katanya diklaim milik rumah sakit, terbantahkan karena di lapangan tak ada dan masih menumpang pada penduduk bersedia di sana.

“Kita telah berupaya maksimal, bagaimana keberadaan rumah sakit dapat berguna bagi masyarakat. Tapi masih begini, seperti upaya kami membuat kolam penampungan akhir limbah tapi justru mendapatkan penolakan. Padahal yang dibuang itu dijamin tidak berbahaya, dengan kolam penampungan ikan itu siapa saja masyarakat dapat memanfaatkannya,” kata Direktur RS Medika Insani Bukit Kemuning, Laolin Rara Masela.

Juga tak kalah layak, klaim tak mendasar justru terbalik di lapangan lainnya. Misalnya tempat penampungan akhir yang kini mendapat kritik wajar dari penduduk sekitar, karena itu bukan merupakan haknya melainkan ada warga berbaik hati meminjamkannya. Tapi tidak ada sumbangsih yang diterima mereka, justru beralibi kalau masyarakatlah yang tidak menerima keberadaan rumah sakit.

“Berbagai cara telah kami tempuh, bahkan belum lama ini juga telah berkompromi melalui kekeluargaan. Tapi keinginan rumah sakit membuat kolam penampungan ikan dengan jaminan tak berbahaya ditolak, “tandasnya.

Padahal wajar masyarakat ketakutan akan keberadaan kolam penampungan yang diklaim tak berbahaya itu oleh pihak rumah sakit. Sebab, berdasarkan pengalaman yang dikeluarkan cukup merepotkan, seperti bebau tajam dan menyengat. Hingga mendapatkan protes warga disana, namun hal itu seperti ditiadakan dengan klaim-klaim telah melakukan yang terbaik.

“Padahalkan manfaatnya banyak, dengan adanya kolam ikan. Warga dapat menambah lauk keluarga, “terangnya.

Semestinya tidak sampai ada penolakan, bila saja klaim-klaim yang disampai oleh pihak rumah sakit mendasar dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup warga. Tapi bagaimana itu akan terjadi, bila apa-apa yang disebutkan jauh panggang dari api.

“Apa yang disampaikan warga disini tidak ada yang ditutup-tutupi, karena itu tidak terjadi dilapangan, “terang salah seorang warga disana.

Sebelumnya, Instalasi pengolahan limbah (Ipal) Rumah Sakit Medika Insani Desa Tanjung Baru, Kecamatan Bukit Kemuning, Kabupaten Lampung Utara tidak berfungsi.

Hal itu nampak saat tim Dinas Kesehatan Lampura melakukan peninjauan kelapangan, Rabu (27/5/2020) petang. Yakni Desa Tanjung Baru, Kecamatan Bukit Kemuning tempat rumah sakit berada. Selain melihat adminstrasi rumah sakit, tim juga melihat langsung proses pengolahan limbah yang sedang berhenti karena diperbaikki oleh pihak ketiga dipercaya mengelolanya.

“Kita lihat sendiri tadi, ini (ipal) sedang diperbaikki sehingga pengolahan limbah berhenti. Dan sementara ditampung dibak penampungan sementara, sampai proses perbaikkan selesai oleh rekanan pelaksana pengelolaan limbah,” kata Plt Kabid Yankes Dinas Kesehatan Lampura, Listiono bersama Plt Kabid Kesmas,Titin Eka dan jajaran didampingi pihak rumah sakit. Dan saat itu praktis membuat proses pembuangan terhenti sementara. Sehingga tidak ada penyaluran sisa buangan rumah sakit kala itu.

“Sementara diberhentikan, dan informasi kita terima memakan waktu tiga hari perbaikkannya, “tambahnya.

Saat menengok pembuangan akhir limbah yang berada di kolam pembuangan sempat diklaim milik rumah sakit. Terdapat tiga pipa pembuangan limbah rumah sakit disana, belakangan diketahui milik warga disana. Bukan seperti diklaim oleh pihak rumah sakit.

“Itukan air kolam menampung limbah mengalir kebawah, coba lakukan langkah persuasif melalui sosialisasi edukasi. Selain diberi penjelasan mengenai bentuk limbah yang diklaim tak masalah, juga mereka (warga) diperhatikan. macam pemeriksaan kesehatan, karena biasa ada penyakit yang ditimbulkan semisal penyakit kulit misalnya yang paling ringan, “tambah Plt Plt Kabid Kesmas Dinas Kesehatan,Titin Eka.

Sebab, diketahui tempat pembuangan limbah yang saat ini digunakan adalah milik warga bernama Holidi dan Suwandi. Sehingga memupus klaim rumah sakit yang menyatakan milik mereka. Pihak rumah sakit diminta membuat tempat penampung dititik ditempatkan sempat mendapatkan protes warga karena dinilai berbahaya tersebut.

“Kami minta itu, dan pekan depan akan kita lihat progressnya seperti apa. Ingat, sosialisasi edukasi penting, untuk memberikan pemahaman kepada warga. Karena kami percaya rumah sakit telah memenuhi apa yang disarankan, “tambahnya.

Dan menurut penuturan warga, mereka tidak pernah menerima pemberian dari pihak rumah sakit yang sempat dilontarkan oleh direktur sampai dengan saat ini. “Kalau untuk masalah bantuan, disini tidak pernah ada yang kami terima sampai saat ini. Begitupun dengan klaim kepemilikan tanah yang sekarang menjadi tempat pembuangan akhir limbah, karena itu milik pak Suwandi dan Holidi. Apa yang kami sampaikan tidak pernah mengada-ada, untuk apa seperti itu, “terang salah seorang warga kebetulan berada disana, Kasen.

Berbagai berkas administrasi pendirian rumah sakit dikeluarkan oleh pihak rumah sakit. Dan kesemuannya sementara berdasarkan keterangan pihak dinas kessehatan telah memenuhi. Dan RS Medika Insani siap mengikuti arahan diberikan oleh tim dinas kesehatan datang kesana.

“Kami siap menindak lanjuti arahan dinas kesehatan, karena selama ini apa yang dilakukan telah sesuai dengan aturannya, “kata Direktur RS Medika Insani Bukit Kemuning, Laolin Rara Masela.

Sebelumnya, limbah pembuangan Rumah Sakit Medika Insani Desa Tanjung Baru, Kecamatan Bukit Kemuning dibuang sembarang.

Berdasarkan pantauan dilapangan, Selasa (26/5/2020), pembuangan limbah rumah sakit melalui siring berada dipemukiman warga itu disalurkan melalui pipa paralo dipasang sejajar kearah sawah yang bermuara ke daerah aliran sungai berada disana. Hingga mengalir kealiran sungai berada dibawahnya, maklum daerah itu merupakan daerah hulu yang mengalir kebagian hilir.(efri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com