Perlu Bantuan, Pembudidaya Ikan Kotaagung Menjerit

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tanggamus (HS) – Kesulitan pendanaan imbas dari tingginya pakan dan biaya operasional, pembudidaya ikan tawar di Kecamatan Kotaagung menjerit. Mereka mengharapkan bantuan dana dan sarana penunjang budidaya dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus, dalam hal ini Dinas Perikanan.

Menurut Sudirman, salah seorang pembudidaya ikan tawar di Kotaagung, yang mempunyai 7 kolam ikan lele produktif di Rukun Tetangga (RT) 17, Pedukuhan Lebak Jaya, Kelurahan Pasar Madang, Kotaagung, menerangkan pembinaan dan bantuan dana yang berkelanjutan dari Pemkab, sangatlah dibutuhkan oleh para pelaku budidaya ikan air tawar, untuk bertahan produktif dan berkembang.

“Ya kami sangat membutuhkan bantuan dana dan juga bantuan sarana prasarana penunjang budidaya, khususnya budidaya ikan lele. Karena saat ini kami kesulitan dalam hal pendanaan untuk mengembangkan kolam, karena terbentur dengan tingginya pakan dan biaya operasional,” terang Sudirman, Rabu (4/10) di lokasi pembudidayaan ikan lele miliknya.

Sudirman mengatakan, harga pakan ikan lele jenis sinta saat ini telah mencapai Rp11.000 perkilo gram, sedangkan pakan kualitas rendah dengan harga lebih murah perkilonya, tidak bisa di jadikan pakan utama, karena kualitas pakan tidak sesuai, sehingga seringkali gagal panen.

“Pakan yang murah memang ada tapi kualitasnya rendah, tidak sesuai dengan perkembangan ikan, ikan lele jadi banyak yang mati. Nah untuk mensiasati mahalnya harga pakan ikan lele ini, kami terpaksa mencari remah remahan atau bekas sisa sisa potongan ikan dipenggilingan ikan, nah remahan ikan ini direbus, dikasihkan ke ikan lele,” ujarnya.

Sudirman mengakui, pernah ada bantuan dana dari Pemkab Tanggamus, pada tahun 2013, namun setelah itu tidak ada lagi bantuan lainnya, dan juga pembinaan tidak pernah di peroleh dari Dinas Perikanan.

Padahal pembinaan yang berkelanjutan sangat dibutuhkan oleh para pembudidaya ikan tawar, karena pembudidaya memerlukan konsultasi dan koordinasi pengembangan budidaya ikan, untuk bertahan dan berkembang maju, sehingga dapat mensejahterahkan para pembudidaya dan masyarakat sekitar.

“Sejak di bantu tahun 2013 itu, sudah begitu aja, setelah laporan penerapan bantuan, pihak dinas tidak pernah lagi membina kami. Dan untung saja, dengan modal tekad dan dana pas-pasan, kelompok budidaya ikan kami masih bertahan sampai saat ini,” katanya lagi.

Sudirman menambahkan, jika ada modal pendanaan, maka panen yang dihasilkan setiap 1 bulan satu kali panen, dapat ditingkatkan kuantitas hasil panen. Yang mana untuk saat ini panen ikan lele dari kolamnya hanya lebih kurang 300 kilo gram ikan, padahal maksimalnya bisa mencapai 500 kilo gram.

“Jika ada bantuan dana, saya berencana menambah kolam, lahannya sudah ada, ukuran sekitar 10×20 meter, jika terwujud target saya bisa panen 1 ton perbulan. Untuk pemasaran tidak ada kendala, ada pengepul ikan dari sini juga, dengan harga Rp16.500 perkilo, kalau dieceran mencapai Rp20.000 – 22.000,‎Serta jika dana memadai saya akan membeli alat penggilingan pembuatan pakan ikan lele (pelet)‎,” imbuh nya. (sis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com