Menyoal Kembali Wujud Tugu Pengantin di Kotabumi

Bagikan
  • 77
  •  
  •  
  •  
  •  

Kotabumi (HS) – Pembangunan Tugu Pengantin di Jalan Pahlawan Kotabumi kembali menuai persoalan. Jika sebelumnya mendapat penolakan dari sebagian besar warga Jalan Pahlawan, karena Tugu Pengantin tersebut dianggap tidak sesuai dengan makna Jalan Pahlawan, kali ini melihat hasil akhir pembangunan tugu pengantin tersebut terkesan asal jadi dan terlihat semrawut, tidak rapi, serta tidak menonjolkan estetika sosok sepasang pengantin adat budaya Lampung, Selasa (30/05/17).

Agus Rahmat Suhada mewakili warga jalan pahlawan, mengatakan bahwa masyarakat merasa kecewa dengan hasil akhir pembangunan tugu pengantin tersebut. Karena menurutnya wujud dari patung atau tugu pengantin tersebut seperti cita rasa lukisan.

Semestinya kata Agus, pada kain tapis yang digunakan lebih mencolok warna dan motifnya, akan tetapi ini justru terlihat samar. Bahkan kata dia lagi pakaian tersebut tidak ada didalam Lima Marga yang ada di Lampung Utara.

“Kok kain tapis motifnya seperti kain lepas, tidak jelas motif dan coraknya, belum lagi bentuk dan posisi pengantin yg tidak simetris dan terlalu tinggi, sehingga semakin memudarkan adsense dari tugu pengantin itu sendiri, dan dari segi adat budaya juga saya bingung dengan tampilan yang seolah pengantin berdandan dalam keadaan buru-buru,” katanya.

Seharusnya, tegas Agus, pihak terkait dalam hal ini Bappeda dan dinas PU harus lebih memahami apa makna dari Adat Istiadat serta apa itu Adat Puranti, “Jika mereka mau mendengarkan masukan dari masyarakat setempat, mungkin kejadiannya tidak seperti ini, saya yakin 1 tugu bambu runcing akan terlihat elok dan simetris dengan sudut jalan dari pada sepasang tugu pengantin tapi justru menjadi bahan tertawaan warga yang melintas di jalan depan pemda.” Tegasnya.

Dengan adanya tugu pengantin tersebut, lanjutnya lagi masyarakat semakin bingung ketika melihat gerbang Pemkab Lampung Utara dengan sepasang kopiah emas yang seharusnya adalah sepasang Kopiah Emas dan Siger,  “Melihat disegi tiga jalan pahlawan kok pengantinnya terlihat “Juling” ( tanya anak kepada ibunya saat itu melintas dijalan tersebut ), saya pun tertawa dan baru menyadari ternyata memang pengantin itu terlihat juling.” Ungkapnya.

Dirinya berharap, semoga kedepannya Bupati Lampung Utara dapat menyediakan ruang dan wadah untuk mendengarkan aspirasi dari masyarakat langsung dan dapat melibatkan masyarakat secara proaktif agar pembangunan yang menggunakan uang rakyat tidak sekedar habis terserap,”Akan tetapi juga lebih tepat guna “ ujar Agus Rahmat Suhada mantan Aktivis 98 ini.

Disisi lain Ketua Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kabupaten Lampung Utara (Lampura), Iwan Setiawan Alihasan Puncak saat dikonfirmasi dirinya enggan berkomentar banyak tentang hasil akhir pembangunan tugu pengantin tersebut. Dia mengungkapkan pada saat hendak dibangunnya tugu pengantin tersebut, sebagai ketua MPAL Lampung Utara dirinya tidak pernah diundang atau dilibatkan dalam proses pembangunan tugu tersebut,

“ Silahkan tanya yang lain, karena saya tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan tugu pengantin ini, “ ujarnya.

Sementara itu Kepala Bappeda Kabupaten Lampung Utara (Lampura). Syahrizal Adhar mengatakan sebelum diserah terimakan tugu pengantin tersebut pihaknya akan memeriksa apa saja yang menjadi keluhan masyarakat terkait ketidak jelasan atau semrawutnya tugu pengantin tersebut.

“ Nanti akan kita periksa, jika masih ada kekurangan kita akan minta perbaiki sebagaimana mestinya,” pungkasnya. (Efri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com