Meski demikian, di usia senjanya tersebut, Mak Ohih tidak mengenal kata menyerah. Dalam kondisi fisik yang sering mengalami sakit di bagian pinggang, ia bekerja dengan sepenuh hati untuk menjaga kebersihan di lingkungan Mushalla Al-Muttaqin depan kediamannya.
“Sehari-hari pekerjaan saya hanya mengurus musala itu, Pak. Tugas saya hanya membersihkan lingkungan sekitar musala agar senantiasa bersih,” paparnya seraya mengatakan Pengurus Mushalla Al-Muttaqin memberinya santunan setiap bulan sebesar 60 ribu rupiah. “Kadang-kadang kalau ada tetangga yang hajatan, saya dipanggil untuk bantu-bantu,” jelas Mak Ohih.
Diakuinya penghasilannya perbulan tidak lebih dari seratus ribu rupiah. Lebih lanjut dikatakan Mak Ohih, rumah yang ditempatinya tersebut dibangun di atas tanah milik warga setempat yang berbaik hati untuk dipakainya.
“Tanah ini bukan milik saya, Pak. Rumah inipun dibuat berkat bantuan sanak famili. Bukan saya tidak mau tinggal bersama anak-anak tiri saya tapi saya tidak mau menyusahkan hidup mereka,” jelasnya. Saat…



