Masih Soal Limbah RS Medika Insani, Apa Kata Dinas Lingkungan Hidup Lampura?

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kotabumi (HS) – Terkait Izin lingkungan rumah sakit (RS) Medika Insani (MI) Bukit Kemuning, Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkungan (DLH) Lampura Luzirwan, didampingi Kabid Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Kausar, mewakili Kepala Dinas Welly, ketika dikonfirmasi mengatakan Dinas Lingkungan Hidup mengaku tidak mengetahui limbah buangan dihasilkan Rumah Sakit Medika Insani Bukit Kemuning.

Baca Juga: Polemik Limbah RS Insani Medika, dari Izin Mati dan Manajemen Anggap Warga Tak Berterimakasih

Setelah awak media mengkonfirmasi baru diketahui bahwasanya dalam titik pembungan akhir limbah (outlet) itu ada bercak darah terlihat jelas di sana. Pihak DLH seolah terperanjat, pantas saja itu mendapatkan penolakan warga. Padahal dalam aturan telah jelas bahwasanya limbah yang dibuang ke lingkungan harus memenuhi segala unsur yang menjadi persyaratan. Sehingga tidak benar, yang demikian masih ada dihasil akhir buangan rumah sakit.

“Meskipun itu darah ayam sekalipun tak boleh, karena apa? Dalam aturan telah digariskan bahwasanya semuanya harus dalam keadaan baik. Kalau itu terjadi pasti menyalahi,” kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH Lampura, Luzirwan, Kamis (28/5/2020) saat dikonfirmasi awak media di kantornya.

/iklan-bpkad-lu.jpg

Baca Juga: Ancaman Hukuman Bagi Pembuang Limbah Sembarangan

Sehingga, kata dia, pihaknya akan kembali memeriksa keadaan. Sehingga apa yang dirasakan masyarakat atau berimbas lain kepada lingkungan dapat diketahui secara detail. Sebab, dalam penjelasan sang direktur rumah sakit dikatakan semua dalam keadaan baik.

“Kami tidak sampai kemarin, cuma melihat itu sudah bersih. Kemungkinan dibersihkan pihak rumah saat booming dimedia, kalau analisis kami demikian,” tambahnya.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat pihaknya akan kembali turun lapangan. Guna memastikan keadaan seperti diilustrasikan oleh direktur RSMI Bukit Kemuning. Sehingga tak mendapat penolakan masyarakat akan keberadaannya.

Meski di lapangan, pendirian rumah sakit mendapat beragama penolakan. Terbukti dengan protes warga yang mengaku tak pernah mendapatkan bantuan, dengan keberadaan tersebut. Namun pihak rumah sakit masih tetap keukeuh mempertahankan alibi. (efri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com