Kali Bego Kotaagung Dangkal, Banjir Bandang Mengancam

Bagikan
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  

Tanggamus (HS) – Pendangkalan Kali Bego di Pedukuhan Lebak Jaya, Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kotaagung, Tanggamus, kian parah, Dua pedukuhan dan puluhan hektare sawah terancam banjir bandang.

Penyebabnya, sedimentasi di muara Kali Bego tersebut diambang titik nadir dan sangat mengkhawatirkan. Permukaan air rata dengan tanah, imbas lumpur yang terbentuk dari tumpukan sampah yang mengendap menjadi sedimen.

Menurut seorang tokoh masyarakat, Sudirman, ketua RT 17 Kelurahan Pasar Madang, sudah saatnya pemerintah daerah (Pemda) Tanggamus memperhatikan kekhawatiran masyarakat. Usulan agar Pemda membangun dan menormalisasi sungai  tersebut sudah pernah diantarkan masyarakat sejak 2011 lalu.

Namun realisasi pembangunan dan normalisasi tak kunjung juga dilaksanakan oleh Pemda, bahkan sepertinya Pemda terkesan mengesampingkan permasalahan harkat hidup masyarakat, yang hampir mayoritas rakyat kecil tersebut.

“Bagaimana kami tidak mengatakan mengesampingkan atau menyepelekan usulan kami tersebut, karena tiap kali musyawarah Kecamatan selalu dibahas. Kemudian Pemda melalui dinas terkait juga sudah sering meninjau, bahkan mengukur-ukur kali bego tersebut, tapi ga ada tindak lanjutnya,” katanya, Rabu (11/10).

Sudirman menerangkan, musibah banjir bandang imbas meluapnya air dari Kali Bego yang bermuara ke pantai laut Kapuran tersebut sudah hampir tujuh tahun ini warga Kelurahan Pasar Madang rasakan, khususnya warga Pedukuhan Lebak Jaya dan Pedukuhan Kapuran, utama sekali warga RT 17, 16, 15,14, 10 dan beberapa RT lainnya.

Tidak hanya areal pemukiman warga saja yang terancam, akan tetapi puluhan hektar sawah disisi kiri kanan kali “Bego” terancam banjir bandang dan fuso atau gagal panen, padahal sawah-sawah tersebut adalah mata pencaharian sebagian warga setempat yang mayoritas nelayan kecil.

“Saya ceritakan sejarahnya mengapa kali dimuara kapuran ini dinamakan kali bego, sebenarnya ini muara kali atau sungai way tuba, nah di tahun 1996 muara kali ini di normalisasi dan dibangun talud permanen oleh pemerintah sampai ke muara pantai. Saat pembangunan normalisasi tersebut beberapa eksavator atau yang dikenal masyarakat ddengan nama mobil bego, yang beroperasi memperdalam dasar sungai, maka sejak itulah jadi namanya muara kali bego,” ujarnya.

Sudirman menambahkan, jadi tidaklah begitu sulit pelaksanaan normalisasi kali “Bego” jika Pemda ingin merealisasikannya, sebab pernah dilakukan sebelumnya, yaitu ditahun 1996 tersebut. Karena jika terus di biarkan maka pendangkalan akan semakin parah, dan imbasnya tentulah masyarakat disekitarnya, maka sangat diharapkan oleh masyarakat setempat agar Pemda memperhatikan jeritan hati sebagian rakyatnya, yang telah disuarakan hampir tujuh tahun ini.

“Ya kami mohonlah kepada Pemda Tanggamus ini, kepada pemimpin kami dan juga para wakil rakyat yang kami pilih dahulu dan sekarang duduk di kursi DPR, agar mendengarkan jeritan hati kami. Semua prosedural pengajuan pembangunan dan normalisasi sudah kami laksanakan, bahkan sejak tahun 2011 lalu, hingga kinipun masih dibahas di kegiatan musyawarah Kelurahan dan Kecamatan hingga tingkat Kabupaten, tapi tetap tidak ada tindak lanjutnya,” imbuhnya. (sis)

hs-krs-22.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com