Harga Singkong Rendah, Ini Kata Ketua DPRD Lampung

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

edi yanto. foto net

Bandarlampung–Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung akan menganalisis penyebab harga singkong turun.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Lampung Edi Yanto mengatakan, upaya yang dilakukan dengan pemetaan jumlah produksi dan pabrik singkong.

“Akan dipetakan dulu (penyebab harga turun). Apakah pengaruh dari perdagangan internasional (impor) atau memang dari supply demand (penawaran dan permintaan),” kata Edi usai rapat koordinasi terkait harga singkong di Ruang Rapat Staf Ahli Gubernur Lampung, Senin (15-3-2021).

Karena itu, dia menyebutkan, perlu diketahui terlebih dahulu jumlah produksi singkong dan pabriknya.

“Ini coba di analisis berdasarkan fakta di lapangan. Jadi saya tidak bisa bilang penyebab turunnya sekarang,” sebutnya.

Terkait permintaan DPRD Lampung beberapa waktu lalu untuk menyurati Kementerian Perdagangan RI agar menghentikan impor, Edi juga mengatakan perlu dipetakan terlebih dahulu.

Jika memang produksi tepung tapioka dan bahan baku singkongnya tercukupi, pemprov akan mengirimkan surat untuk menghentikan impor.

“Tapi kalau memang jumlah produksi dan bahan bakunya kekurangan ya bisa impor,” terangnya.

Meski demikian, dia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 ada impor tujuh ribu ton singkong.

“Sedangkan 2020 hanya lima ribu ton. Jadi sebenarnya jumlah yang diimpor itu sedikit. Tapi nanti coba kita petakan dulu,” tuturnya.

Sebelumnya, DPRD Lampung meminta Gubernur Arinal Djunaidi menyurati Menteri Perdagangan agar impor tepung tapioka ditutup.

Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay menilai, dengan penutupan impor tepung tapioka, maka harga singkong akan meningkat.

“Sebagai ketua DPRD, saudara gubernur buat surat ke Menteri Perdagangan, bahwa keran impor tapioka ditutup. Supaya nilai jual petani singkong kita meningkat,” kata Mingrum saat rapat dengar pendapat di Ruang Rapat Komisi DPRD Lampung, Senin (8-3-2021).

Menurut dia, jika impor tapioka ditutup, maka pabrik-pabrik yang memproduksi tepung tapioka akan membeli singkong petani Lampung.

“Pabrik itukan memproduksi. Mau singkong bentuk apapun, dia beli. Dia giling jadi tapioka. Baik kualitas satu, dua dan tiga. Lalu dijual,” sebutnya.

Padahal, dia meyakini kualitas singkong di Lampung terjamin. “Saya yakin petani kita juga tahu tidak jual singkong yang cukup umur,” ujarnya.

Sebaliknya, menurut dia, jika impor tepung tapioka masih terus dilakukan maka petani singkong akan terus menderita.

“Kalau keran impor itu masih dibuka, saya tidak jamin. Karena kalau pengusahanya impor, maka harganya jauh lebih murah daripada dia giling sendiri. Karena biaya produksi kita tinggi. Jadi menurut kajian saya gitu,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com