Tanggamus (HS) – Momen bersejarah bagi dunia energi Indonesia. Pertamina Geothermal Energy (PGE) resmi memulai pembangunan Green Hydrogen Pilot Project di Ulubelu, Tanggamus, Lampung, Selasa (9/9/2025)
Proyek ini digadang bakal jadi salah satu percontohan hidrogen hijau terbesar di Tanah Air.
Hadir sejumlah pejabat tinggi negara, mulai dari Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, Wakil Menteri Investasi/Hilirisasi Todotua Pasaribu, Dirjen EBTKE Eniya L. Dewi, Direktur Panas Bumi Gigih Udi Atmo, hingga Staf Khusus Menteri Robert Marbun.
Dari daerah, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Bupati Tanggamus Hi. Moh Saleh Asnawi ikut mendampingi jajaran direksi Pertamina Group.
Hadir pula rektor UI, ITB, UNILA, ITS, dan perwakilan UGM. Total lebih dari 300 tamu undangan ikut menyaksikan langsung seremoni peletakan batu pertama.
Direktur Utama PGE Julfi Hadi menegaskan bahwa proyek ini adalah milestone penting dalam roadmap perusahaan.
Menurutnya, Indonesia punya potensi panas bumi luar biasa, dan Ulubelu adalah salah satu yang terbaik.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang luar biasa, dan Ulubelu adalah karunia alam yang perlu dimaksimalkan. Kami menargetkan pengembangan kapasitas hingga 3 Gigawatt energi terbarukan geothermal di masa mendatang,” kata Julfi.
Ia menambahkan, selain berorientasi pada energi bersih, PGE juga berkomitmen menjaga lingkungan serta memberdayakan masyarakat lewat program CSR.
“Fokusnya, pengembangan SDM lokal agar siap menjadi generasi penerus energi hijau Indonesia,” tegasnya.
Komisaris Utama Pertamina, Komjen (Purn) Mochamad Iriawan, menyebut Ulubelu adalah salah satu sumber panas bumi terbaik di Indonesia. Pertamina pun siap menanamkan investasi jumbo untuk proyek ini.
“Pertamina melalui PGE siap menanamkan investasi sebesar USD 1,8 miliar. Pilot plant Ulubelu adalah simbol bahwa energi bersih bisa lahir dari tanah dan air Indonesia. Inilah warisan energi hijau yang akan kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” tegas Iriawan.
Proyek ini akan melahirkan pilot plant pertama dengan teknologi Alkaline Electrolyzer (AE) sebagai sarana riset dan uji coba (proof of concept).
Selain untuk kebutuhan domestik, teknologi ini juga membuka peluang ekspor amonia cair ke pasar global.
Wakil Menteri Investasi/Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menegaskan pemerintah mendukung penuh langkah Pertamina.
“Pertamina harus masuk pertama dalam energi hijau ini. Kami akan mendukung penuh agar proyek ini cepat terwujud, dengan nilai tambah yang tinggi bagi bangsa,” ujarnya.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung yang hadir mendampingi Menteri ESDM juga menegaskan hal senada.
“Pemerintah siap memperkuat sinergi agar transisi energi bersih bisa segera terealisasi,” tegas Yuliot.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyambut langkah PGE ini dengan antusias. Ia menilai proyek ini akan memberi efek ganda, tak hanya di sektor energi tapi juga pertanian.
“Mari kita berkolaborasi menjadikan Indonesia sebagai lumbung energi dunia, dan Lampung siap menjadi pusat dukungan. Saya bersama Bupati siap mendukung penuh kesuksesan proyek ini,” ujarnya.
Rahmat menyebut, faktor strategis berupa kedekatan dengan pelabuhan sekitar 30 km dari lokasi serta adanya 1.500 hektar lahan milik Pertamina akan menopang kuat ekosistem energi hijau di Lampung.
Sementara itu, Bupati Tanggamus Hi. Moh Saleh Asnawi menegaskan proyek ini bakal membawa dampak langsung ke masyarakat.
“Peluang kerja, peningkatan ekonomi, hingga program pemberdayaan masyarakat akan menjadi multiplier effect dari hadirnya Green Hydrogen Pilot Project di Ulubelu,” tegasnya.
Dengan dimulainya pembangunan Green Hydrogen Pilot Project ini, Kabupaten Tanggamus kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pusat energi strategis Indonesia.
Proyek ini juga jadi tonggak penting transisi energi bersih menuju masa depan berkelanjutan. (*)



