Cak Nun: Ada Penyempitan Makna Ajaran Islam

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Cak Nun mengatakan itu dalam diskusi kebudayaan saat merayakan Maulid Muhammad SAW di Brussel, terang  Ketua Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia (KPMI) Brusel, Lanang Seputro di London, Senin (25/12/2016).

Dalam diskusi Cak Nun mengatakan, masyarakat Indonesia cenderung menghakimi umat agama lain ataupun umat muslim lainnya dengan pemahaman yang dangkal.

Dia mencontohkan yang tidak ikut demo 212 bukan muslim atau  nasionalis dan kalo nasionalis berarti tidak Islam.

“Jadi, ada perasaan sentimen “kami atau mereka, kalo nggak sama dengan kami berarti mereka berarti musuh,” ujar Cak Nun.

Perilaku seperti ini juga dinilai berkontribusi terhadap citra masyarakat muslim dan Islam di mata internasional yang dianggap brutal. Padahal Islam menurut Cak Nun, adalah tenaga di pikiran dan cahaya di hati dan jika itu dipahami dan diterapkan dengan baik maka Islam sebagai Rahmatan lil Alamin dapat tercapai.

Ada beberapa faktor akan kedangkalan cara berpikir umat Islam di Indonesia. Salah satunya saat Wali Sembilan (Wali Songo) menyampaikan syiar Islam yang utuh juga tidak sempat berlanjut. Sebab keburu terjadi pertikaian politik yang akhirnya juga mengkotak-kotakkan masyarakat muslim Indonesia itu sendiri.

Selain itu terdapat pemahaman Islam sekedar budaya dan masyarakat cenderung mengikuti ajaran Islam secara kaku.

Menurut Cak Nun, dalam ajaran Islam yang ada di Al Quran, isinya  3,5 persen akidah, dan 96,5 persen adalah ibadah muamalah.

“Kebanyakan masyarakat muslim sendiri terpaku pada 3,5 persen itu dan kadang-kadang tanpa pengetahuan dan pemahaman yang kuat,” ujarnya menambahkan.

Hingga timbul hak halal haram oada seseorabg atau golongan tertentu. Padahal yang bisa mengharamkan sesuatu adalah Allah.

Yang luput dari umat Islam, kata Cak Nun, sebagian masyarakat muslim memahami Islam itu datang bersama Nabi Muhammad, padahal sesungguhnya Islam ada sejak Allah mencipatakan alam semesta.

Diakhir diskisi, Cak Nun mengingatkan seluruh umat Islam untuk kembali pada Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Bila mengajak ke yang benar itu pakai cara persuasif sehingga orang akan simpati dan senang seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Aula KBRI Brussel  dipilih sebagai tenpat diskusi yang dihadiri Dubes RI untuk Brusel Yuri O. Thamrin. Acara itu  terlaksana berkat kerjasama PPI Belgia, Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia (KPMI) Belgia, PCINU Belgia dan didukung KBRI Brussel.

Cak Nun melakukan perjalanan di lima kota di Eropa  yaitu Hannover, Frankfurt, Brussels, Amsterdam & Den Haag dalam rangka diskusi kebudayaan memeriahkan Maulid Nabi. Ia datang bersama istrinya, Novia Kolopaking atas kerjasama antara alumni Gontor di Eropa, PPI Jerman, Belgia, Belanda & PCI NU.

Timesindonesia.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com