Bupati Tanggamus Terbitkan Surat Edaran Juknis Pelaksanaan Iedul Adha 1442 H

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kota Agung (HS) – Dalam rangka mencegah dan memutus rantai penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang saat ini mengalami peningkatan dengan munculnya varian baru yang lebih berbahaya dan menular serta untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam penyelenggaraan Malam Takbiran, Shalat Idul Adha, dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M, maka perlu dilakukan pembatasan kegiatan dan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M Di Wilayah Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan

Masyarakat      (PPKM)      dan      Surat      Edaran      Gubernur      Lampung      Nomor      :

045.2/2447/02/2021 Tentang Penerapan Protokol Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Sholat Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M Tanggal 5 Juli 2021. Dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Malam Takbiran

Malam Takbiran diselenggarakan dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Jemaah  malam  takbiran  wajib  dalam  kondisi  sehat  (suhu  badan  dibawah  37 derajat celcius);
    1. Malam takbiran hanya boleh diikuti oleh jemaah dengan usia 18 (delapan belas)

s.d. 59 (lima puluh sembilan) tahun;

  • Malam  takbiran  hanya  dapat  diselenggarakan  pada  masjid/mushalla  dengan status zona risiko penyebaran Covid-19 zona hijau dan zona kuning;
    • Masjid/mushalla  yang  menyelenggarakan  malam  takbiran  wajib  menyediakan alat pengukur suhu tubuh (thermogun), hand sanitizer, sarana mencuci tangan menggunakan    sabun    dengan    air    mengalir,    masker    medis,    menerapkan pembatasan jarak dan memastikan tidak ada kerumunan, serta melakukan disinfeksi di tempat penyelenggaraan sebelum dan setelah penyelenggaraan malam takbiran;
    • Malam  takbiran  hanya dapat diikuti oleh  jemaah  masjid/mushalla  dari warga setempat dengan ketentuan maksimal 10 (sepuluh) persen dari kapasitas ruangan, dengan pengaturan bergantian maksimal 5 (lima) jemaah;
    • Takbir  keliling,  baik  dengan  arak-arakan  berjalan  kaki  maupun  dengan  arak- arakan kendaraan, DILARANG dilaksanakan di semua zona risiko penyebaran

Covid-19;

  • Pelaksanaan malam takbiran di masjid/mushalla paling lama 1 (satu) jam dan harus   diakhiri   maksimal   pukul   22:00   waktu   setempat;   dan   Jemaah   yang mengikuti takbiran wajib pulang ke rumah/kediaman masing-masing seusai penyelenggaraan malam takbiran.
  • Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha diselenggarakan dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Shalat  Hari  Raya Idul  Adha 1442  H/2021 M  DITIADAKAN  pada Kecamatan dengan Zona Merah dan Zona Oranye yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setempat.
    1. Shalat Hari Raya Idul Adha 1442 H/2021 M hanya dapat diselenggarakan di

Kecamatan  Zona  Hijau  dan  Zona  Kuning  yang  ditetapkan  oleh  Pemerintah Daerah dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setempat dengan acuan sebagai berikut :

  1. Penyelenggaraan       Shalat       Idul       Adha       dapat       dilakukan       di masjid/mushalla/lapangan terbuka yang dikelola masyarakat, instansi pemerintah, dan perusahaan dengan jumlah jemaah 30% dari kapasitas;
    1. Penyelenggara  Shalat  Idul  Adha  wajib  berkoordinasi  dan  dengan  seizin Pemerintah  Daerah,  Satuan  Tugas  Penanganan  Covid-19  setempat,  dan aparat keamanan.
      1. Penyelenggara Shalat Idul Adha wajib:
        1. Menyediakan alat pengukur suhu tubuh (thermogun);
        1. Menyediakan hand sanitizer dan sarana mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir;
        1. Menyediakan masker medis;
        1. Menyediakan    petugas    untuk    mengumumkan,    menerapkan,    dan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan;
        1. Jemaah dengan kondisi tidak sehat dilarang untuk mengikuti Shalat Idul Adha.
        1. Mengatur  jarak  antarshaf  dan  antarjemaah  minimal  1  (satu)  meter dengan memberikan tanda khusus;
        1. Tidak menjalankan/mengedarkan kotak amal/infak ke jemaah;
        1. Memastikan  tidak  ada  kerumunan  sebelum  dan  setelah  pelaksanaan

Shalat Idul Adha;

  1. Melakukan disinfeksi di tempat penyelenggaraan sebelum dan setelah Shalat Idul Adha.

c.     Khutbah Idul Adha

Penyampaian Khutbah Idul Adha wajib memenuhi ketentuan :

  1. Khatib memakai masker medis dan pelindung wajah (faceshield);
    1. Khatib menyampaikan khutbah Idul Adha dengan durasi maksimal 15 (lima belas) menit;
      1. Khatib   mengingatkan   jemaah   untuk   selalu   menjaga   kesehatan   dan mematuhi protokol kesehatan.

d.    Jemaah Shalat Idul Adha

Jemaah Shalat Idul Adha wajib :

  1. Berusia 18 (delapan belas) s.d. 59 (lima puluh sembilan) tahun;
    1. Dalam kondisi sehat;
      1. Tidak sedang menjalani isolasi mandiri;
      1. Tidak  baru  kembali  dari  perjalanan  luar  kota;Disarankan  tidak  dalam kondisi hamil atau menyusui;
      1. Berasal dari warga setempat;
      1. Membawa perlengkapan shalat masing-masing (sajadah, mukena, dsb);
      1. Menggunakan masker rangkap sejak keluar rumah dan selama berada di area tempat penyelenggaraan Shalat Idul Adha;
      1. Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan  menggunakan sabun atau hand sanitizer;
      1. Menghindari kontak fisik seperti bersalaman;
      1. Menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah minimal 1 (satu) meter;
      1. Tidak berkerumun sebelum dan setelah Shalat Idul Adha.
  • Pelaksanaan Qurban

Pelaksanaan qurban wajib memenuhi ketentuan:

  1. Penyembelihan  hewan  qurban  dilaksanakan  sesuai  syariat  Islam,  termasuk hewan yang disembelih;
    1. Penyembelihan hewan qurban berlangsung dalam waktu tiga hari, yakni pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah untuk menghindari kerumunan di lokasi pelaksanaan qurban;
    2. Pemotongan hewan qurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia (RPH-R);
  • Dalam  hal  keterbatasan  jumlah  dan  kapasitas  RPH-R,  pemotongan  hewan qurban dapat dilakukan di luar RPH-R dengan ketentuan:

1)   Penerapan jaga jarak fisik (physical distancing), meliputi:

  • Melaksanakan pemotongan hewan qurban di area yang luas sehingga memungkinkan diterapkannya jaga jarak fisik;
    • Penyelenggara hanya membolehkan petugas dan pihak yang berkurban untuk menyaksikan pemotongan hewan qurbannya;
      • Menerapkan   jaga   jarak   fisik   antarpetugas   pada   saat   melakukan pemotongan, pengulitan, pencacahan, danpengemasan daging;
      • Pendistribusian daging hewan qurban dilakukan oleh petugas kepada ke tempat tinggal warga yang berhak;
      • Petugas  yang   mendistribusikan  daging   qurban  wajib   mengenakan masker rangkap dan sarung tangan untuk meminimalkan kontak fisik dengan penerima.

2)   Penerapan  protokol  kesehatan  dan  kebersihan  petugas  dan  pihak  yang berkurban:

  • Pemeriksaan kesehatan awal yaitu melakukan pengukuran suhu tubuh petugas dan pihak yang berkurban dengan alat pengukur suhu tubuh (thermogun);
    • Petugas   yang   menangani   penyembelihan,   pengulitan,   pencacahan daging, tulang, serta jeroan harus dibedakan;
      • Setiap     petugas     yang     melakukan     penyembelihan,     pengulitan, pencacahan,  pengemasan,  dan  pendistribusian  daging  hewan  harus menggunakan  masker,  pakaian  lengan  panjang,  dan  sarung  tangan selama di area penyembelihan;
      • Penyelenggara hendaklah selalu mengedukasi para petugas agar tidak menyentuh  mata,  hidung,  mulut,  dan  telinga,  serta  sering  mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer;
      • Petugas  menghindari  berjabat  tangan  atau  kontak  langsung,  serta memperhatikan etika batuk/bersin/meludah dan;
      • Petugas     yang     berada     di     area     penyembelihan     harus     segera membersihkan diri (mandi) sebelum bertemu anggota keluarga.

Kota Agung Timur,   06   Juli 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com