Wali Murid Nilai Kepala PAUD di Way Kanan Selewengkan Dana BOP

Bagikan
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  

Way Kanan – Kepala Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dharmawanita Kampung Neki, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan Lampung, tidak pernah masuk kerja. Selain itu, Kepala Sekolah PAUD bernama Nur Asiah ini diduga menyimpangkan dana bantuan operasional penyelenggaraan PAUD tahun 2016. Penggunaan dana bantuan tersebut tidak sesuai dengan petunjuk teknis.

“Setahu saya kepala sekolah itu tidak pernah masuk, bahkan satu guru lagi yang merupakan menantunya juga tidak pernah masuk,” ujar salah seorang wali murid yang enggan disebut namanya.

Terkait dana BOP, para wali murid juga tidak pernah mengetahuinya, untuk kebutuhan belajar, wali murid dibebankan untuk membeli buku menggunakan dana sendiri.

“Kami beli buku sendiri, bayar SPP juga. Harga buku itu kami beli dengan harga Rp. 75 ribu, kalau SPP Rp. 25 ribu,” ucapnya.

Salah seorang guru aktif di PAUD tersebut mengakui adanya bantuan BOP yang diterima sekolah.

“Memang ada, ya saya dikasih tapi gak banyak. Kalau gurunya ada tiga orang, saya sendiri, Bu Asiah sama satu guru lagi Bu Maya,” ujar guru tersebut.

Mengenai besarnya dana BOP yang diterima PAUD, guru tersebut tidak mengetahui jumlahnya.

“Besarnya tidak tahu, kalau muridnya pada tahun 2016 itu ada 20 orang,” ungkapnya.

PAUD Neki yang masih memakai gedung Balai Kampung Neki, dari pantauan media ini, tidak memiliki peralatan bermain. Sementara sesuai  Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 2 Tahun 2016   tentang  Petunjuk  Teknis  Penggunaan  Dana  Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD, dana tersebut salah satunya  dipergunakan untuk pembelian buku pelajaran.

Seuai Permen Pendikbud tersebut, dalam satu siswa didanai BOP sebesar Rp. 600 ribu.  Jika PAUD Neki memiliki 20 siswa maka jumlah dana yang diterima sebesar Rp. 12 juta.

Kepala Sekolah PAUD Neki, Nur Asiah yang ditemui SDN 2 Campang Lapan, Banjit, mengelak tuduhan dugaan penyimpangan tersebut. “Saya tetap masuk kerja, walaupun hanya satu minggu sekali,” kata dia.

Berkaitan dengan dana BOP, Nur mengaku hanya menerima dana sebesar Rp. 5 juta. Dengan alasan siswa yang aktif hanya 15 orang. “Dana yang saya terima itu hanya Rp. 5 juta, lebih dikit. Dana itu digunakan untuk membeli salon (speaker aktif), lemari dan VCD. Kalau masalah buku memang harus beli sendiri,” pungkasnya. (MS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com