Tumpukan Rekening, Sulitnya Temui Manajer PLN Pringsewu

Bagikan
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  

Pringsewu (HS) – Terkait pemberitaan hariansumatera.com beberapa waktu lalu, tentang penumpukan rekening tagihan di beberapa wilayah di Rayon Pringsewu. Manajer Rayon Pringsewu, Boy Mangatas Sidabalok, sulit ditemui.

Beberapa kali wartawan mendatangi kantornya, Boymin, panggilan akrab sang manajer, terkesan menghindar.

“Pak Boy gak ada mas, dari pagi dia belum datang, kami nggak tau dia masuk apa nggak hari ini, ” terang salah seorang pegawai PLN kepada wartawan, saat hendak dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Boymin akan memberikan klarifikasi kepada wartawan, terkait penumpukan rekening tagihan listrik yang mengakibatkan kerugian terhadap konsumen subsidi.

Konsumen, khususnya yang subsidi, tidak menyadari ada selisih harga tarif dasar listrik dari blok l Rp275/kwh dengan blok 3 Rp495/kwh, yaitu Rp220.

Dari selisih tersebut, diperkirakan setiap konsomen mengalami kerugian sebesar 171 ribu, akibat penumpukan rekening.

Dari jumlah konsumen 69.320, kerugian mencapai hampir 12 Miliar.

Sumber dari karyawan PT Widati Putrama Mandiri mengatakan, kalau Boymin berada tak jauh dari kantor saat wartawan datang.

” Ya, mas, pak Boymin ada dikantor kita (PT Widati,rekanan PLN), dia enggak enak ketemu sama mas (salah seorang konsumen).Tapi, dia siap kembalikan kerugian mas, mas maunya gimana, ” kata sumber kepada salah seorang konsumen bernama Azis.

Keterangan berbeda disampaikan konsumen Azis.

Menurutnya, Boymin tidak berada dikantor saat dia datang ke PLN. Namun, salah seorang staf PLN mengarahkan Azis ke PT. Widati atas perintah Boymin. Dan staf tersebut mengatakan, terkait penumpukan rekening tagihan, itu tanggung jawab PT. Widati yang akan menyelesaikannya.

Saat Azis mendatangi PT. Widati, dia langsung disodori struk pembayaran rekening listrik yang sudah dilunasi.Struk itu merupakan upaya PLN untuk menutupi kesalahan terhadap komsumen.

Ternyata, struk tersebut memang sudah dipersiapkan oleh Boymin, namun dia malu untuk memberikan lansung kepada Azis. Oleh karena itu, struk tersebut diberikan melalui
PT. Widati.

Melihat kronolgisnya, terbukti, bahwa PLN sudah melakukan kesalahan. Dan PT. Widati tidak bekerja sesuai SOP. Namun, antara PLN dan PT. Widati saling lempar tanggung jawab.

Dampak dari pemberitaan hariansumatera yang terus menyoroti masalah penumpukan meteran, PLN mengambil sikap tegas terhadap vendor.

PLN mengultimatum vendor dengan memberikan waktu sampai bulan Juni mandatang. Apabila pihak vendor tidak memperbaiki kinerjanya, maka PLN akan memecat petugas yang nakal. Dan kesalahan petugas pencatat meter yang mengakibatkan penumpukan meteran, akan dibebankan kepada petugas lapangan.

Jika PLN bisa berbuat seperti itu terhadap satu konsumen, mengapa hal ini tidak dilakukan terhadap konsumen lainnya, bukankah mereka juga mempunyai hak yang sama. Sebagai konsumen mereka dilindungi oleh undang-undang.

Dan barang siapa yang telah sengaja merugikan konsumen, maka itu perbuatan pidana. (san)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com