Fokus  

Profesor Ini Jelaskan Potensi Manfaat Kina untuk Virus Corona

Bagikan Berita

Sebetulnya klorokuin fosfat di Indonesia ada, tetapi klorokuin di Indonesia itu adalah sintetis dan bahan bakunya juga impor. Selama ini impornya dari China dan India. Nah, dalam kondisi seperti ini, mereka juga lagi ngurusin negaranya dulu dong. Sehingga kita melihat klorokuin fosfat ini mempunyai base structure yang mirip dengan kuinin sulfat. Dan pada kenyataannya, kuinin sulfat ini juga sama, mempunyai mekanisme kerja yang sama pada anti malaria.

Maka dengan demikian, kalau klorokuin fosfat itu mempunyai aktivitas yang bagus untuk penanganan coronavirus di China, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh peneliti dari sana, maka dapat diambil satu kesetaraan bahwa adanya kesamaan mekanisme kerja di malaria kemungkinan mempunyai potensi kesamaan juga untuk kerja di penanganan Covid-19 ini. Kemudian hal itu bukan tanpa dasar. Karena tahun 1940 juga, pada saat klorokuin fosfat ini mengalami resistensi, diganti dengan kuinin, dan (itu) mempunyai aktivitas yang baik. Kurang lebih seperti itu. Jadi ini bisa menjadi alternatif, (bisa) dikatakan begitu.

Nah, metode ini atau konsep ini, disebut sebagai repurposing drug. Artinya dalam kondisi darurat seperti ini, yang paling realistis adalah kita memilih obat dari obat yang ada. Kenapa? Obatnya ada, tidak usah lagi diformulasi, kemudian keamanan penggunaannya juga sudah jelas, karena sudah biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Sehingga isu toksisitas itu bisa kita redam, dan itu keamanan pasien itu bisa dianggap amanlah untuk pasien. Toh, selama ini juga orang menggunakan kuinin sulfat dalam bentuk pil kina. Orang sehat juga minum kan, pada saat mau masuk ke daerah pandemi malaria. Dan ini potensial untuk dicoba. Daripada kita mencari obat-obat yang belum tahu kita. Kemudian kalau di Wuhan, China sendiri, mereka men-screening dari ribuan obat. Kemudian langsung diujiklinikkan beberapa obat yang memang dianggap mempunyai potensi. Nah, salah satu yang dianggap punya potensi itu adalah klorokuin fosfat.

Bisa dijelaskan klorokuin fosfat dan kuinin sulfat ini kesamaannya?

Jadi begini. Klorokuin fosfat itu adalah produk sintetis, tapi klorokuin fosfat itu mirip dengan kuinin yang berasal dari kina. Klorokuin fosfat dengan kuinin sulfat itu mempunyai basis struktur yang sama, yaitu quinoline. Jadi keduanya mempunyai kemiripan struktur, dan pada penyakit malaria keduanya mempunyai mekanisme kerja yang sama. Jadi kenapa arahnya ke kina? Yang paling penting, bahan baku kina itu banyak di Indonesia. Jadi kita bisa membuat obat kuinin sulfat ini menjadi pil, tidak usah takut dengan bahan baku. Sementara kalau klorokuin fosfat, bahan bakunya itu impor.

Untuk memastikan lagi Prof, berarti sebenarnya tanaman kina ini kandungannya bukan klorokuin fosfat, tapi kuinin sulfat, begitu?

Iya, itu. Makanya kan heboh. Memang bukan klorokuin fosfat. Ya, itu dia (kuinin sulfat).

Berarti ada missed atau kesalahan informasi ya. Cuma, memang ada kesamaan kandungan antara klorokuin fosfat dan kuinin sulfat, begitu?

Iya, ada kesamaan dari struktur basis, base structure-nya, yaitu sama-sama base structure-nya ada quinoline.

Kalau untuk tanaman kina, di Indonesia apa memang kita punya bahan baku yang cukup?

Betul, kita punya bahan baku yang cukup. Kemudian kita tidak (perlu) tergantung oleh impor. Kita selama ini juga mengimpor klorokuin fosfat karena Indonesia belum bisa membuat sendiri. Tapi dalam kondisi seperti ini, mungkin mereka (China) juga mendahulukan kondisi di negaranya. Makanya, kenapa kina ini mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai salah satu obat potensial untuk terapi dan Covid-19 tersebut, karena persamaan kandungan tersebut. Juga (karena) sama-sama memiliki mekanisme kerja yang sama untuk anti malaria. Pada saat 1940 yang terjadi resistensi klorokuin fosfat, diganti okeh kuinin itu juga lebih baik.

Jadi kenapa akhirnya ke kina, karena berdasarkan evidence base medicine yang ada di klorokuin fosfat, kita buat critical appraisal dan diarahkan ke kuinin yang ada di kina. Kalau klorokuin fosfatnya ada di Indonesia, silakan pakai. Tapi kalau tidak ada, kita harus mencari alternatif lain.

Jadi, karena saya sebagai clinical pharmacist, saya menyarankan ini bisa dijadikan sebagai alternatif. Dasarnya adalah menggunakan konsep repurposing drug. Repurposing drug itu adalah kita memilih obat yang sudah ada, karena kita mengutamakan dari patient safety. Nah, kalau sekarang kita baru mau mencari obat, pasiennya sudah keburu ke mana (kan)? Sehingga yang ada dulu, yang bisa dijadikan lifesaving buat masyarakat, buat pasiennya. Jadi menyelamatkan kehidupan dulu pakai obat yang ada.

https://www.hariansumatera.com