Penyobekan Baju, Wakil Sekolah Minta Maaf

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kotabumi (HS) – Persoalan penyobekan baju siswi di SMKN 1 Kotabumi Lampung Utara, oleh oknum guru, terus berlanjut. Pihak keluarga saat ini masih belum bisa menerima kehadiran pihak sekolah dan lebih berkeinginan pemulihan mental kepada sang anak.

Dari pantauan, Rabu (12/01/2017) sore sekira pukul 17.30 WIB, pihak sekolah berkunjung ke kediaman orang tua LS, di Jalur dua, Kelurahan Kota Alam, Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara. Dalam pertemuan itu pihak sekolah yang diwakili oleh Wakil Bidang Kesiswaan Sulistyani, guru BK, dan dua orang guru lainya.

Pihak keluarga, untuk sementara ini masih meminta waktu agar dapat melakukan rembuk bersama, guna memutuskan persoalan tersebut.

“Kami menerima kedatangan mereka, tapi karena persoalan ini sudah diketahui keluarga besar, kami meminta waktu untuk keputusannya dan masih keberatan untuk menerima permintaan maaf dari pihak sekolah (guru), saat ini kami lebih ke anak kami untuk pemulihan mental anak,” kata Paman LS, selaku perwakilan pihak keluarga.

Sementara atas kejadian itu, salah satu perwakilan guru (Guru BK), mengatakan, jika kedatangan mereka ke kediaman orang tua LS untuk bersilaturahmi dan mengecilkan persolan tersebut.

“Kami disini silaturahim, kemudian dengan masalah ananda kita LS, kami dari sekolah dari ibu waka, saya sendiri di BK, meminta maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan keluarga, walaupun saya guru biasa, tetapi saya diajak karena saya yang dituakan untuk menemui keluarga ananda LS,” ujar guru BK.

Ditempat yang sama, ibu Sulistyani yang saat ini masih menyembunyikan inisial si pelaku perombekan baju, masih tetap berdalih untuk melakukan penertiban, menurutnya, LS tidak mengetahui penertiban itu karena LS jarang masuk sekolah.

Ibu Sulis beralasan penertiban yang dilakukan ke LS karena LS mengkreop baju atau memendekan baju yang dipakainya, akan tetapi baju yang dipakai oleh LS diketahui sewajarnya yang digunakan teman-temanya.

“Selama 4 tahun saya dikesiswaan tidak pernah ada masalah. Kita berikan pemberitahuan setiap upacara, dan di umumkan melalui pengeras suara tia masjid. Hari rabu itu, kita memulai berguyur kegiatan penertiban itu, ananda Lusi ini pernah tidak masuk sekolah, dengan begitu kami bingung memberitahu keluarganya. Bukan cuma LS aja (ditindak) yang bajunya di krop itu bukan LS aja. Kita menjaga jangan sampai anak-anak salah jalan dalam penampilan. Ini tiap bulan dan berkali-kali kita lakukan,” ujar Sulisstyani.

Tak lama pertemuan itu beselang, pihak keluarga dan sekolah belum dapat menyimpulkan kesepakatan diterima atau tidaknya permohonan maaf. Karena ayah LS meninggalkan dewan guru yang dinilainya masih berdalih mencari pembenaran dalam masalah sosial yang telah menerpa siswi sekolah tersebut. (Sar/ef)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://www.hariansumatera.com
MENUMENU