Lesunya Perdagangan di Pasar Pandawa Lima Abung Timur

Bagikan
  • 83
  •  
  •  
  •  
  •  

Kotabumi (HS) – Pasar merupakan tempat transaksi berbagai kegiatan bisnis dalam sistem ekonomi pasar, segala bentuk kegiatan yang terjadi di dalamnya, sepenuhnya diatur  interaksi antara pembeli dan penjual. Dengan demikian berpengaruh langsung pada pendapatan asli daerah (PAD).

Berdasarkan pemikiran tersebut, awak media ini melakukan observasi di Pasar Pandawa Lima Dusun Dorowati Desa Penagan Ratu Kecamatan Abung Timur Kabupaten Lampung Utara, guna melihat secara langsung perputaran ekonomi di pasar type C yang saat ini mendapatkan bantuan pembangunan pasar melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2017 senilai Rp. 5.703.610.000,- dari Kementrian Perdagangan RI.

Meski demikian, hasil penelusuran awak media ini, pada Minggu, (22/10), sekira pukul 09.30 WIB, Pasar Pandawa Lima yang lebih dikenal warga dengan pasar kalangan Dorowati, ditemukan fakta yang berbeda.

Pasar mingguan yang buka setiap hari Rabu dan Minggu, idealnya ramai didatangi pelaku ekonomi, faktanya sepi pembeli. Di jam tersebut, para pedagang sudah mulai membereskan barang dagangannya. Bahkan, beberapa pedagang telah kembali pulang ke kediaman masing-masing.
Diakui salah seorang pedagang bumbu dapur, Eko, sejak pukul 09.00 WIB, Pasar Pandawa Lima telah tutup.

“Memang seperti ini pasar di sini, Pak. Dari dulu bukanya pagi sekitar jam 05.00 WIB, tutupnya sekitar jam 09.00 WIB. Masyarakat sekitar mayoritas petani. Jadi, kalau berharap di pasar ini bisa ramai, yah, saya tidak tahu,” ungkap Eko seraya membersihkan bawang merah dagangannya.

Dikatakannya, daya beli masyarakat di Pasar Pandawa Lima masih lemah. Ketika ditanya pendapatan perhari yang diperolehnya, Eko mengatakan tak lebih dari Rp. 100 ribu. “Yah, namanya juga orang dagang, Pak. Kadang pulang bawa uang, kadang hanya daftar hutang dari pelanggan,” jelas Eko.

Ditambahkannya, sepinya pembeli yang datang ke pasar tersebut disebabkan akses jalan menuju Pasar Pandawa Lima dalam kondisi rusak parah.

“Untuk bisa sampai ke sini ada tiga akses jalan, Pak. Dari Desa Margorejo, Desa Wonomarto, dan Desa Sawojajar. Ketiga jalannya masih rusak parah. Jadi, rata-rata pembeli, yah, warga sekitar, Pak,” jelasnya.

Diketahui, akses masuk melalui Desa Wonomarto dan Desa Sawojajar masih berupa jalan tanah dan dikelilingi dengan perkebunan tebu. Satu-satunya akses yang padat penduduk melalui pintu masuk Desa Margorejo. Itupun dengan kondisi jalan onderlagh dan juga dikelilingi kebun tebu.

Sementara itu, untuk mendapatkan tempat/lapak berjualan di pasar tersebut masih cukup mudah dikarenakan masih banyak lapak terpal maupu los permanen yang kosong. Hal ini disampaikan Santi, salah seorang pedagang sayuran.

Dijelaskan oleh Santi, agar bisa berdagang di lapak terpal, pedagang diminta sewa pertahun sebesar Rp. 350 ribu.

“Untuk sewa lapak terpal, saya diminta pengurus pasar uang sewa setahun Rp. 350 ribu. Untuk salar harian Rp. 7.000, Pak. Kalau Bapak mau berjualan, masih banyak itu lapak yang kosong, Pak,” jelas Santi, Minggu, (22/10), tanpa mengetahui identitas awak media yang ketika itu berpura-pura menjadi calon pedagang.

Dijelaskan Santi lebih jauh, untuk sewa di los permanen, biaya sewa yang musti dirogoh sekitar Rp. 500 ribu pertahun. (efri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com