Ada Apa dengan Dana Desa 2019 di Gedung Dalom Pesawaran?

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Way Lima (HS) – Ini bisa jadi adalah contoh carut marut penggunaan dana desa dan terindikasi korupsi. Hal ini terjadi di Desa Gedung Dalom, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran, tahun anggaran 2019.

Ratusan juta Dana Desa sepertinya menguap begitu saja. Warga, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, kepala dusun, dan aparatur desa menyampaikan kegelisahan atas tidak adanya pertanggungjawaban yang transparan dari pelaksana kegiatan.

Ini Daftar Evaluasi Pekerjaan yang Tidak Selesai

Data yang dhimpun hariansumatera.com di lapangan, dari beberapa kegiatan yang ada, pelaksanaannya tidak sesuai Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Desa (RAPBDes). Kegiatan itu di antaranya pemeliharaan gedung kantor desa, program bedah rumah sebanyak 3 unit, dan juga pembangunan siring (drainase).

Dari beberapa kegiatan itu, sebagian besar bermasalah. Ini diketahui karena aparatur desa tidak mau menandatangani pertanggungjawaban. Persoalannya masih ada tunggakan pembayaran upah pekerja, pembayaran material, serta pemotongan insentif aparatur desa.

Siapa saja yang diduga ada di dalam pusaran persoalan di Desa Gedung Dalom ini? Menurut penuturan warga, mereka di antaranya Bahsan (Eks Pj. Kades Gedung Dalom), kemudian M. Nasir (Kepala Dusun Pacitan dan Direktur BUMdes), dan Firdaus (Operator Desa merangkap Ketua Unit Bumdes).

Penuturan salah satu Ketua RT di Dusun Pacitan, Desa Gedung Dalom, Way Lima, dia tak mau menandatangani pertanggungjawaban karena masih menyisakan banyak persoalan.

“Masih banyak upah pekerja tak dibayar, material juga masih hutang, bagaimana saya mau menandatangani laporan pertanggungjawaban,” kata Ketua RT yang minta namanya tidak disebutkan.

Benarkah ada penyelewengan dana desa tahun 2019 di wilayah tersebut? M. Nasir, Direktur BUMdes yang juga Kadus Dusun Pacitan, menampik tuduhan ini.

“BUMdes tahun 2019 kemarin anggarannya Rp124 juta. Pencairannya melalui rekening saya. Uang itu saya serahkan ke Ketua Unit yaitu Saudara Firdaus dan disaksikan langsung Bendahara,” kata Nasir.

Bendahara yang dia maksud adalah Cici Oktafia. Siapa dia? Nasir menjelaskan kalau Cici ternyata adalah istri dari Firdaus, Ketua Unit BUMDes.

Nasir menjelaskan, dana itu dipakai untuk pembelian tarup ukuran 4 x 6 meter sebanyak 4 unit dengan total harga Rp32 juta. Lalu pembelian laptop, lemari dan lainnya.

Merasa Tidak Bersalah…

Halaman Selanjutnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com