Persoalan Plagiat Media Online

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bandar Lampung (HS)  Pemuatan berita aksi plagiat di portal online inilampung.com merupakan bentuk arogansi media. Tanpa melalui mediasi atau teguran, pemuatan gamblang screenshot oleh inilampung.com seperti ingin menunjukkan media tersebut sangat bersih dari aksi pencomotan sumber berita, yang kerap dilakukan jurnalis di era global sekarang.

“Belajarlah dengan tempo.co. Media besar yang tidak arogan,” kata pelaku pers Agoes Widjanarko, ketika dimintai pendapat soal pemuatan berita di portal inilampung.com, Senin (20/2).

Menurut Agoes, Tempo itu media besar yang tidak hanya diakui di Indonesia, tapi dunia. Namun, media mainstream ini memberikan sebuah pelajaran yang manis dan mendalam bagi jurnalistik di Indonesia. “Ketika sebuah wawancara ekslusif mereka dimuat mentah-mentah oleh jurnalindonesia.id, Tempo tidak langsung melakukan apa yang dilakukan inilampung.com. Istilahnya mereka tidak menembak di tempat untuk menguliti rekannya,” tegas Agoes.

Tempo melakukan tabayun, menghubungi media bersangkutan. Tujuannya pasti untuk menegur dan klarifikasi. Ketika pihak yang dihubungi ternyata tidak merespon, Tempo pun tidak langsung melakukan screenshot seperti inilampung. Tempo menggunakan jalur  yang benar: melapor ke Dewan Pers.

“Itu wawancara ekslusif, bukan berita peristiwa biasa seperti yang di inilampung. Sepengetahuan saya untuk berita biasa, Tempo santai-santai saja. Yang nyomot ribuan kalau berita biasa. Umumnya, orang besar menyikapi dengan bijak. Kalau langsung menembak biasanya kerdil atau ingin dihormati,” katanya.

Agoes menyoroti bukan hanya plagiat, embel-embel seperti pemuatan yang plek atau tidak plek juga haram bagi jurnalis. “Memangnya kalau sumber berita satu kemudian dimodifikasi judulnya, terasnya, atau hanya memainkan kata-kata agar tidak sama dengan induknya itu halal?” tanya dia.

Jurnalis yang memuat berita bukan dari hasil reportase langsung tetap haram menampilkan karyanya di media. Kalimat berita yang dimuat inilampung.com dengan kata “plek” seolah-olah malah menunjukkan media ini seperti mengizinkan praktek modifikasi materi berita yang bukan hasil reportase.

Wartawan, kata dia, haram memuat berita dari hasil khayalan. Jika jurnalis tidak berada di lokasi berita dan hanya menerima bahan mentah dari jurnalis lain, itu sama saja rilis. “Kalau rilis sebutkan dengan tegas. Lain kalau fiksi, mau mengkhayal setinggi langit ya silakan,” katanya.

Dia melanjutkan, “Kalau mau jujur dan buka-bukaan, minta tolong yahoo atau google membuka semua email media yang ada di Lampung ini. Satu reporter mengirim berita mentah ke rekannya di media lain. Di sana, mereka melakukan modifikasi agar namanya bisa tercantum. Seolah-olah itu hasil karya jurnalistik mereka. Ini haram!”

Agoes mengapresiai pengamat yang bijak menyikapi persoalan ini. Salah satu, kata dia, adalah Budi Santoso Budiman, Antara Lampung. “Budi itu aktif di media yang tugasnya menyebar dan memberikan berita. Namanya saja kantor berita. Saya pernah membaca keluh kesahnya di laman facebook soal copy paste atau plagiat. Meski begitu wartawan senior ini bijak dengan tidak mengumbar pelaku. Saya yakin dia menyadari situasi informasi global sekarang ini,” katanya.

Agoes menyarankan seharusnya inilampung.com atau media-media lain nantinya menghubungi pihak yang memuat berita tanpa izin atau mencantumkan sumber. Jika tidak ada penyelesaian, laporkan ke Dewan Pers. “Pasanglah disclaimer dengan benar. Atau buat sindikasi media. Bukan menuduh, saya khawatir apa yang disebut inilampung.com bersindikasi baru sekadar di mulut, bukan sebuah perjanjian di atas kertas,” katanya.

Namun, Agoes mengatakan aksi plagiat tetaplah haram. “Haram hukumnya!” ujar dia. Kalau memang reporter melakukan plagiat, Gerbangsumatranews wajib mencabut berita dan meminta maaf.  @gerbangsumatranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com