MPM Bantah Pakai Preman, Konsumen Minta Bukti Fidusia

Bagikan
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  

Bandar Lampung (HS) –┬áSupervisor Colection MPM Lampung Mukhlis mengklarifikasi soal penggunaan jasa preman untuk menarik mobil dari konsumen.

Saat dikonfirmasi Senin (5/3) dikantornya Jl. Arif Rahman Hakim, Kali Balau, Bandar Lampung, Mukhlis menjelaskan, “Memang benar mobil Musfiran itu ditarik, tapi kalau menggunakan preman itu salah ya, karena kita mengacu pada UU, kemudian peraturan OJK, sesuai dengan fidusianya juga (sertifikat fidusia tidak diperlihatkan). Bahwa memang penarikan kalau bukan internal, itu harus memakai agency. Agency yang sudah berbadan hukum, yang pasti sudah ada MoU dengan MPM. Dan kebetulan mobil tersebut ditarik oleh agency dari PT Artha Bumi Nusantara (ABN), dan kemudian PT ABN juga menurunkan timnya untuk menyelesaikan tunggakan tersebut,” katanya.

Lanjut Mukhlis, “Tapi kalau katanya mobil tersebut ditarik di jalan tidak betul juga, waktu itu yang kita tahu juga kebetulan saat itu saya sedang di Palembang, mobil tersebut diserahterimakan di kantor sini. Kalau gak salah hari jum’at saya dapat informasinya, waktu itu juga dalam mobil ada barang-barang seperti laptop, alat-alat kerja lainnya. Dan waktu itu juga sudah diambil sama dari pihak yang bawa mobil itu, Reza anaknya Bang Johan dari Laskar Merah Putih. Dan Bang Johan sudah ketemu sama saya langsung, artinya masalah itu sudah clear,” katanya.

Mukhlis menjelaskan, “Yang bersangkutan ini kata internal data, history payment berkas lengkapnya, yang bersangkutan ini tunggakannya setiap bulan selalu tidak sesuai dengan komitmen kerja kita. Yang mana dalam perjanjian tersebut bahwa pembayaran itu jatuh temponya setiap tanggal 10 dan itu harus dibayar setiap bulan. Bukan 2 bulan sekali atau 3 bulan sekali. Kemudian di sini juga tunggakan pada waktu ditarik sudah 146 hari, jadi kalau tunggakan hanya 1 bulan atau 2 bulan mungkin kita ga begini juga kan ya. Kita jalani sesuai prosedur artinya kita juga ada prosedurnya juga Sertifikat Fidusia, kemudian juga Musfiran ini orangnya sulit ditemui, tanya sama tetangga juga memang jarang ada di rumah. Kemudian sebelumnya juga pernah dikerjakan sama Agency tapi beda Reporcacer yang turun. Pernah ketemu tapi dia juga gak ada, tetap mau bayar segala macam. Bahkan dia musfiran sempat saya tanya waktu itu dia bilang, cari yang lebih kuat aja yang bisa tarik mobil saya.”

“Jadi kita punya dasarnya. Kalau mungkin dianya kooperatif kita gak perlu susah-susah begini. Jujur aja kalau kerjasama dengan internal nama baik kita lebih bagus. Kebetulan saat mobil ditarik tidak di dia (Musfiran) lo. Maksudnya mobil ini bisa saja take over atau gimana itu gak paham ya, tapi informasi mobil itu sempat digadai sekitar Rp60 juta, tapi saya gak pernah tau hitam diatas putihnya. Intinya mobil tersebut digadai ini didapat dari tim lapangan. Jadi tindakan-tindakan yang kita ambil sudah sesuai SOP, kita sudah kirim somasi untuk dia menyelesaikan langsung. Jadi mobil tersebut tidak kita larang untuk diambil, tapi untuk kontinyu kredit itu tidak bisa lagi. Karena yang bersangkutan sudah wanprestasi, sulit ditemui, tidak bayar tepat waktu kemudian pokok hutang masih besar. Ini kontraknya 48 bulan atau 4 tahun kalau mau disekesaikan ini lama. Sudah ada SP, ada SP 7 hari keterlambatan pembayaran dan SP 21 hari. Kemudian kita limpahkan kepada Agency itu juga atad dasar kalau memang nasabah tersebut memang masih bisa dihandle sama internal kenapa kita mesti buang ke orang lain gitukan ke Agency,” pungkasnya.

Menanggapi apa yang disampaikan Mukhlis, Musfiran mengatakan hal itu hanya mengada-ada.

“Kalo Pak Mukhlis bicaranya begitu mas, itu sih kayaknya mengada-ada,” kata Musfiran.

Dia mengakui, memang kondisi usahanya sekarang lagi macet, sehingga pembayaran cicilan mobilnya agak tersendat. Tapi Musfiran menyangkal kalau dia tidak kooperatif, seperti yang disampaikan Mukhlis.

“Gak kooperatif gimana? Sebelum peristiwa ini terjadi, saya selalu welcome dengan pihak leasing, kok mas. Setiap orang leasing datang saya temui, bahkan setiap di telpon, saya angkat, jadi nggak kooperatifnya di mana,” tambah Musfiran.

Dengan nada kesal, Musfiran tak terima dengan penyampaian Mukhlis. ” Kalo dia (Mukhlis), ngomong mobil itu digadai, mana buktinya? Masa, selaku pimpinan bicaranya begitu, kita bicara harus pake bukti,” tegas Mus.

“Kalau memang MPM sudah bertindak sesuai prosedur, coba tanya aja sama Mukhlis, tuh, ada nggak sertifikat fidusianya, pasti dia nggak mau nunjukin. Waktu saya ketemu dia di kantor, saya tanyakan juga, dia bilang ada, tapi nggak mau nunjukin”.

Mestinya, lanjut Musfiran, MPM jangan bertindak seperti itu, inikan sangat merugikan konsumen. Kalau memang konsumen wanprestasi (cidera janji), ambillah tindakan sesuai prosedur. Jangan pakai cara-cara seperti kemarin, pake rombongan. Tunjukkan saja sertifikat fidusia yang sudah dikeluarkan oleh kantor fidusia. Kalau mereka tidak bisa menunjukkan fidusianya, berarti tindakan mereka itu ilegal. “Sekarang, mas tanya aja sama Mukhlis, ada nggak sertifikat itu,” pinta Musfiran.

“Saya dari pertama teken kontrak, tidak pernah diberikan salinannya. Padahal, mereka tahu alamat saya, tapi giliran menyangkut masalah eksekusi, tau-tau suratnya sudah ada di depan pintu rumah. Itupun, pemberitahuannya sudah mepet. Surat itu datangnya 2 hari sebelum jatuh tempo,” tutupnya. (san)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com