Tanggal 8 Agustus 1945, pemimpin tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi memanggil aku dan Mohammad Hatta ke Dalath, Vietnam. Terauchi sama sekali tidak menjelaskan apa maksudnya. Hal ini membuat aku dan Hatta bertanya-tanya. Ternyata pertemuanku dengan Terauchi di Dalath sangatlah penting dalam sejarah Indonesia.
Jepang mengaku tidak akan menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia. Jepang sadar bahwa mereka sudah dikalahkan pasukan Sekutu. Maka dengan membawa berita baik itu, pulanglah aku dan Hatta ke Indonesia.
Pesawat yang kutumpangi ternyata pesawat pembom yang sudah rongsokan. Banyak lubang bekas tembakan di badan pesawat itu. Pesawat itu juga tidak memiliki tempat duduk. Para penumpang duduk di lantai pesawat atau berbaring. Tidak ada juga pemanas, sehingga para penumpang menggigil kedinginan.
Parahnya, tidak ada juga kamar kecil. Nah, yang jadi masalah, saat itu aku ingin buang air kecil. Akupun berbisik pada Suharto, dokter pribadiku. “Aku ingin kencing. Apa yang harus kulakukan?”. Suharto kelihatan bingung. Maka dia menunjuk bagian ekor pesawat yang penuh lubang bekas tembakan. “Tidak ada tempatnya, jadi tidak ada jalan lain. Bung harus kencing di sana,” kata Suharto.
Baiklah. Aku melangkah pelan-pelan ke bagian belakang pesawat dan melampiaskan hajatku. Dan baru aku mulai, tiupan angin yang keras menghempas melalui lubang-lubang bekas peluru dan menyemburkan air itu ke seluruh ruangan pesawat. Kawan-kawanku yang malang itu mandi dengan “air istimewa”.
Saat mendarat di Jakarta, kulihat para penumpang termasuk Hatta masih setengah basah dengan air kencingku.
(Sumber : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy Adams)



