Saber Pungli Lampura, Salar Bebani Pedagang

Bagikan
  • 34
  •  
  •  
  •  
  •  
Kotabumi (HS) – Sejumlah pemilik toko pakaian di Pasar Sentral Kotabumi mengeluhkan penarikan salar pasar yang dilakukan petugas yang mengaku dari Dinas Perdagangan (dahulu Dinas Pasar) Kabupaten Lampung Utara (Lampura). Selain besarannya yang meningkat dari salar yang biasa mereka bayar, penarikan juga dilakukan sampai dengan 2 kali dalam sehari.
Besarnya salar yang ditarik juga berbeda. Yakni Rp.2500 untuk petugas yang pertama datang, kemudian Rp.2000 untuk petugas salar yang datang berikutnya. Para petugas itu dibekali dengan secarik karcis semacam tanda bukti penerimaan yang distempel Dinas terkait.
Sebut saja Susi salah seorang pemilik toko pakaian yang ada di pasar tersebut. Ibu muda ini menuturkan sejak 2 bulan terakhir penarikan salar dilakukan dengan cara demikian.
Padahal sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampura, Samsir ketika melakukan kunjungan kepasar tersebut medio Januari lalu berjanji akan menurunkan besarnya salar yang waktu itu Rp 1000.  Namun kenyataannya, salar bukannya turun melainkan malah naik. Bahkan terjadi 2 kali penarikan salar dalam satu hari.
“Dulu pak Sekda berjanji pada kami, mau menurunkan salar. Ini bukannya turun malah kami diberatkan dengan adanya dua kali pungutan salar,” ujar Susi, kemarin (12/3).
Menurut Susi, petugas yang pertama datang mengaku sebagai koordinator seluruh salar. Itulah sebabnya karcis salar warna hijau yang dibawanya sebesar Rp.2500, sebagai jumlah yang harus dibayar oleh pemilik toko. Tidak lama berselang, datang petugas berikutnya yang juga meminta salar. Hanya bedanya karcis salarnya warna kuning dimana tertera jumlah salar yang harus dibayar berbeda yakni Rp.2000.
“Petugas pertema ngakunya sebagai bos pemungut salar, yang lain itu kata dia anak buahnya,” jelas Susi.
Ditambahkan Susi, sebagai pedagang tentu saja penarikan salar yang demikian sangat membingungkan selain juga memberatkan pedagang. Karenanya Dinas terkait mesti memberikan penjelasan kepada para pedagang. Bisa jadi penarikan yang demikian hanya kehendak oknum tertentu saja. Artinya penarikan yang dilakukan petugas tidak resmi alias pungutan liar (Pungli). Meskipun mereka dibekali dengan secarik karcis yang distempel oleh Dinas Perdagangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Lampura Syahruddin Putra yang dihubungi merasa terkejut dengan informasi yang menyebutkan adanya pemungutan salar dua kali dalam sehari. Ia mengatakan tidak betul demikian, malahan saat ini pihaknya tengah melakukan evaluasi dan pembahasan mengenai salar tersebut. Di mana pada intinya sesuai dengan petunjuk Bupati, salar justru harus dikurangi agar tidak memberatkan masyarakat. “Kita lagi bahas, mudah-mudahan dalam waktu dekat Peraturan bupati (perbup)nya sudah turun mengenai persoalan salar tersebut,” pungkasnya (efri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.hariansumatera.com