Kolom Ardiansyah: Transformasi Aksara KA GA NGA Menuju Ruang A Be Ce De

Share Berita Ini
  • 30
  •  
  •  
  •  
  •  

KOLOM ARDIANSYAH 

• Pemerhati seni dan budaya tinggal di Kotabumi, Lampung Utara

 

Transformasi Aksara KA GA NGA Menuju Ruang A Be Ce De : Mempertahankan Tradisi atau Menyerah Dalam Akulturasi

DARI sejumlah penampil yang menyuguhkan beragam karya seni tari dan musik kontemporer, performance yang disuguhkan Ayu Permata Dance Company cukup menarik perhatian sejumlah pengunjung yang hadir menyaksikan Kotabumi Art Festival 2018, Rabu kemarin, (28/03/2018), di Aula Islamic Centre Kotabumi Kabupaten Lampung Utara.

Ayu Permata Dance Company menawarkan satu bentuk pertunjukan tari kontemporer dengan latar belakang sejarah lahirnya Aksara Lampung serta perkembangan aksara itu mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah dengan pesat.

Koreografi yang dibentuk memberikan gagasan serta perspektif berbeda dari berbagai pertunjukan tari konvensional maupun dengan konsep serupa yang pernah dipertontonkan, khususnya di Kabupaten Lampung Utara. Meski begitu, harmonisasi antara suara, ekspresi, dan gagasan yang disajikan oleh tarian berjudul KA GA NGA ini sangat kuat dan menyatu dalam komposisi gerak yang dinamis.

Tak heran, jika komunitas tari yang eksistensinya sangat diakui di Provinsi Yogyakarta ini, mampu memukau pengunjung yang dengan sesekali memberi aplaus disetiap kejutan tematik dalam gerak para penari Ayu Permata Sari (Koreografer), Yola Utari Asmara, Ela Mutiara Jaya Waluya, Nurrachma Dinda Chairani, Dwi Risnawati Ayuningsih.

Bermula dari panggung yang lengang, cahaya redup memancar dari sayap-sayap panggung dan stage lamp, serta suara desahan seorang wanita dengan ritme lambat yang menyuarakan kata-kata Aksara Lampung “Ka Ga Nga” secara berulang-ulang dan meluncur hingga pertunjukan usai.

Tanpa diduga, lima orang penari wanita muncul dari belakang pengunjung yang pada awalnya terfokus pada panggung yang lengang dan terkesan penuh misteri. Dengan begitu santun dan penuh keramahan, lima orang penari Ayu Dance Company menarik satu persatu pengunjung untuk berdiri seraya mengajarkan gerak yang mewakili simbol Aksara Lampung, Ka Ga Nga.

Penari dan pengunjung seolah terlibat intim, tanpa jarak, dan saling bertautan. Setelah beberapa saat, para penari tersebut menuju ke atas ruang pertunjukan dengan terus berujar Ka Ga Nga dengan karakter dan intonasi yang berbeda-beda.

Sepanjang pertunjukan tari KA GA NGA tidak terdengar satu nada dari alat musik yang lazim mengiringi sebuah pertunjukan tari. Hanya suara pengucapan aksara Ka Ga Nga yang terus bertautan dan pada akhirnya menjadi harmonisasi musik pengiring tarian. Energi yang luar biasa ditunjukkan para penari.

Lambat laun, ujaran-ujaran Aksara Lampung itu mulai bertumburan dengan pengucapan abjad A Be Ce dan sebagainya. Ini menjadi ruang dan atmosfer tersendiri. Sebuah transformasi peradaban purba menuju era-modernisme.

SELANJUTNYA: SEBUAH FILOSOFI…

(Visited 145 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

hariansumatera.com